ArtikelKonsultasi

10 Adab Berbicara dengan Orang Lain

10 Adab Berbicara dengan Orang Lain

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya.

Bagaimna sikap kita atau cara bicara kita ketika duduk dengan orang yang sangat pintar sekali? Misalkan atasan kita, dosen kita, atau guru guru kita? Dan, bagaimna pula jika kita duduk dengan orang orang yang (mohon maaf bisa dikatakan) masih awam?

Terima kasih, Ustadz.

Salam, Fulanah

JAWAB:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركات

Bismillah… Islam mengajarkan kepada umatnya agar pandai menjaga adab, khususnya dalam berbicara dengan orang lain. Baik itu kepada orang yang lebih tua, sebaya, bahkan yang masih kecil sekalipun.

Begitu pula cara berbicara kepada orang yang berbeda level keilmuannya, tentu berbeda caranya bagaimana kita berbicara dengan orang yang luas dan dalam ilmunya seperti guru, dosen, ustadz, maupun kyai kita atau dengan orang yang sedikit ilmunya atau awam.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)

Lalu, bagaimanakah adab bicara kita dengan orang yang lebih alim atau guru kita maupun dengan orang yang lebih awam? Sebenarnya tidak jauh berbeda antara adab berbicara dengan salah satu keduanya. Hanya saja nanti akan kami perjelas beberapa poin. Diantaranya adalah:

Pertama, memulai bicara dengan salam. Rasulullah shallallãhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ بَدَأَ بِالكَلامِ قَبْلَ السَّلامِ فَلا تُجِيبوه (رواه الطبراني وأبو نعيم)

“Barangsiapa memulai bicara sebelum (mengucap) salam, maka jangan kau jawab”. (H.R. Thabrani & Abu Na’im).

Kedua, berbicara yang baik-baik atau diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam”. (H.R. Bukhari Muslim)

Ketiga, menggunakan kata-kata yang sesuai dengan yang diajak bicara. Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ؛ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً (رواه مسلم)

“Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan suatu pembicaraan yang akal-akal mereka tidak sampai kepadanya, melainkan akan ada fitnah bagi sebagian mereka”. (Muslim)

Berbicara dengan orang alim, silakan bertanya tentang suatu ilmu yang kita belum pahami bahkan dengan bahasa yang ilmiah, karena mereka ahlinya. Akan tetapi berbicara dengan orang awam, harus disesuaikan dengan kadar pengetahuan dan pengalaman mereka, agar tidak tersinggung dan atau sulit memahami.

Keempat, berbicara dengan bahasa secukupnya, bukan dengan banyak kata-kata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَال (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya Allah benci tiga hal terhadap kalian: katanya katanya, menghamburkan harta, dan terlalu banyak bertanya”. (H.R. Bukhari Muslim)

Kelima, menghindari perdebatan meskipun benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا (رواه أبو داود والترمذي)

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar”. (H.R. Abu Dawud & Tirmidzi)

Jika meninggalkan perdebatan dengan guru termasuk akhlak yang baik karena menghormatinya. Apapun menghindarinya dengan orang awam adalah agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar dengan adanya salah paham, dan sebagainya.

Keenam, bicara dengan perlahan (tapi pasti), dan tidak terlalu cepat. Diriwayatkan oleh Aisyah radliyallahu ‘anha, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لأَحْصَاهُ (رواه البخاري)

“Sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam (jika) berbicara, apabila dihitung (kata-kata beliau) oleh seseorang yang menghitung, maka tentu akan bisa dihitungnya”. (Bukhari)

Sehingga, orang yang awam sekalipun tidak akan bingung dengan ucapan kita.

Ketujuh, merendahkan nada bicara agar tidak terlalu tinggi atau keras. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَٱقۡصِدۡ فِی مَشۡیِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَ ٰ⁠تِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِیرِ {لقمان: ١٩}

“Dan sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. {Q.S. Luqman: 19}

Kedelapan, mengulangi kata-kata yang penting. Diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا (رواه البخاري)

“Apabila berbicara dengan suatu perkataan (yang penting), beliau ulangi tiga kali”. (Bukhari)

Hal ini bisa sangat bermanfaat terhadap orang awam karena mempermudah baginya untuk memahami.

Kesembilan, mendengarkan dengan seksama tanpa memotong pembicaraan.

Kesepuluh, menutupi dan merahasiakan hal-hal yang bersifat rahasia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن حفص بن عاصم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع (رواه مسلم)

Dari Hafsh bin ‘Ashim berkata, Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap pembohong jika ia mengatakan semua yang dia dengar”. (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

Wallâhu a’lam bish-showâb.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Dijawab oleh: Ustadz Very Setiyawan, Lc., S.Pd.I., M.H.)

#SahabatMigran ingin berkonsultasi seputar masalah agama Islam dan persoalan kehidupan? Yuk, sampaikan pertanyaannya melalui pesan WhatsApp ke nomor +852 52982419. [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×