ArtikelHikmah

Tuntunan Rasulullah SAW ketika Beranjak Tidur dan Bangun

Keharusan mengetahui petunjuk Rasulullah SAW

Dari sini dapat diketahui urgensi kebutuhan hamba yang tidak bisa ditawar tawar lagi untuk mengetahui petunjuk yang dibawa Rasulullah SAW. Sebab, tidak ada jalan untuk mendapatkan keberuntungan kecuali lewat petunjuk itu. Yang baik dan yang buruk tidak bisa dikenali secara terinci kecuali dari sisi petunjuk itu. Apapun kebutuhan yang datang dan apapun urgensi yang muncul, maka urgensi hamba dan kebutuhannya terhadap Rasul ini jauh lebih penting lagi.

Apa pendapatmu tentang orang yang engkau pun sudah putus asa untuk memberinya petunjuk? Tidak ada yang bisa merasakan hal ini kecuali hati yang hidup. Sebab orang yang mati tidak lagi merasakan sakit.

Jika kebahagiaan tergantung kepada petunjuk Rasulullah SAW, maka siapapun yang menginginkan keselamatan bagi dirinya harus mengenal dan mengetahui petunjuk, sirah, dan kedaan beliau, agar dia terbebas dari jerat orang orang yang bodoh. Dalam hal ini manusia ada yang mendapat sedikit, mendapat banyak, dan ada pula yang sama sekali tidak mendapatkannya. Karunia hanya ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendakiNya.

Tuntunan Rasulullah SAW ketika beranjak tidur dan bangun

Terkadang beliau tidur di atas Kasur, terkadang di atas kulit yang sudah disamak, terkadang di atas tikar, terkadang di atas tanah, terkadang di atas dipan, dan terkadang di atas kain hitam.

Ubbad bin Tamim meriwayatkan dari pamannya, dia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kaki di atas kaki yang lain.” (Ditakhrij Al Bukhari dan Muslim)

Ketika beranjak ke tempat tidurnya, maka beliau mengucapkan doa: “Bismikallahumma ahya wa amut” (Dengan namaMu ya Allah, aku hidup dan aku mati). (Ditakhrij Al Bukhari, Muslim, dan At Tirmidzi).

Beliau menjajarkan kedua telapak tangan lalu meniupnya seraya megucapkan surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Setelah itu beliau mengusapkan telapak tangan ke seluruh tubuh yang memang bisa diusapnya, dimulai dari bagian kepala, lalu ke wajah, lalu ke bagian tubuh. Beliau melakukan hal ini tiga kali.

Beliau tidur pada lambung kanan (dalam posisi miring ke kanan), meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan.

Jika bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihinnusyur” (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepadaNya tempat Kembali). (Diriwayatkan AL Bukhari, Muslim, At Tirmidzi).

Setelah itu beliau bersiwak. Terkadang, beliau membaca 10 ayat dari akhir surat Ali Imran.

Beliau biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam. Tapi terkadang juga tidak tidur pada awal malam karena melayani kemaslahatan orang orang Muslim.

Mata beliau tidur tapi hati beliau tidak tidur. Jika beliau tidur, tak seorang pun membangunkan beliau, sehingga beliau sendiri yang bangun.

Dinukil dari terjemahan kitab Zadul Ma’ad (Bekal Perjalanan ke Akhirat) karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×