ArtikelHikmah

Tuntunan Rasulullah dalam Fitrah dan Segala Keragamannya

Keharusan mengetahui petunjuk Rasulullah SAW

Dari sini dapat diketahui urgensi kebutuhan hamba yang tidak bisa ditawar tawar lagi untuk mengetahui petunjuk yang dibawa Rasulullah SAW. Sebab, tidak ada jalan untuk mendapatkan keberuntungan kecuali lewat petunjuk itu.

Yang baik dan yang buruk tidak bisa dikenali secara terinci kecuali dari sisi petunjuk itu. Apapun kebutuhan yang datang dan apapun urgensi yang muncul, maka urgensi hamba dan kebutuhannya terhadap Rasul ini jauh lebih penting lagi.

Apa pendapatmu tentang orang yang engkau pun sudah putus asa untuk memberinya petunjuk? Tidak ada yang bisa merasakan hal ini kecuali hati yang hidup. Sebab orang yang mati tidak lagi merasakan sakit.

Jika kebahagiaan tergantung kepada petunjuk Rasulullah SAW, maka siapapun yang menginginkan keselamatan bagi dirinya harus mengenal dan mengetahui petunjuk, sirah, dan keadaan beliau, agar dia terbebas dari jerat orang orang yang bodoh.

Dalam hal ini manusia ada yang mendapat sedikit, mendapat banyak, dan ada pula yang sama sekali tidak mendapatkannya. Karunia hanya ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendakiNya.

Tuntunan Rasulullah dalam fitrah dan segala keragamannya

Ada perbedaan pendapat, apakah Rasulullah SAW sudah dalam keadaan dikhitan semenjak lahir, ataukah dikhitan malaikat pada saat dada beliau dibelah, ataukah kakeknya, Abdul Muththalib, yang mengkhitan.

Beliau suka mendahulukan yang kanan ketika mengenakan sandal, ketika memulai jalan, bersuci, mengambil, dan memberi. Tangan kanan beliau digunakan untuk makan, minum, dan bersuci, sedangkan tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran ketika di kamar kecil umpamanya.

Tuntunan beliau dalam bercukur, maka semua bagian rambut dicukur secara merata atau semua tidak dicukur sama sekali. Beliau tidak pernah mencukur sebagian tanpa sebagian yang lain. Tidak pernah diriwayatkan tentang bercukur ini kecuali saat menunaikan haji.

Beliau suka bersiwak dan melakukannya, baik ketika berpuasa maupun tidak berpuasa. Beliau bersiwak setiap kali bangun dari tidur, ketika hendak wudhu, ketika hendak shalat, ketika hendak masuk rumah, dengan dahan dari pohon arak. Beliau sering memakai minyak wangi dan menyukainya.

Beliau mempunyai alat celak yang beliau gunakan ketika hendak tidur, dan kedua mata dicelaki. Para sahabat berbeda pendapat, apakah beliau pernah mengecat rambut ataukah tidak?

Menurut Anas, beliau tidak pernah mengecat rambut. Menurut Abu Hurairah, beliau pernah mengecat rambut.

Ada segolongan orang berpendapat, beliau sering memakai minyak wangi, sehingga membuat rambut beliau kemerah merahan, hingga menimbulkan anggapan bahwa beliau mengecat rambutnya, padahal beliau tidak mengecatnya.

Abu Rimtsah berkata, “Aku pernah melihat uban beliau kemerah merahan. Menurut At Tirmidzi, apa yang dikatakan Abu Rimtsah ini merupakan penafiran yang paling baik. Sebab beberapa riwayat yang sahih menyebutkan bahwa beliau tidak memiliki uban kecuali beberapa lembar rambut di tempat belahan rambut. Yang pasti, beliau banyak meminyaki rambutnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau biasa memangkas kumis. Diriwayatkan pula bahwa Ibrahim Alaihis Salam juga biasa memangkas kumis.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Pangkaslah kumis dan peliharalah jenggot. Berbedalah kalian dengan orang orang Majusi.” (Diriwayatkan Muslim).

Dari Anas, dia berkata, “Nabi SAW membatasi waktu memangkas kumis dan memotong kuku, agar kami tidak memeliharanya lebih dari 40 hari.” (Diriwayatkan Muslim).

Dinukil dari terjemahan kitab Zadul Ma’ad (Bekal Perjalanan ke Akhirat) karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×