ArtikelHikmah

Rasulullah Hijrah: Perjalanan ke Madinah (Bagian 6)

DDHK.ORG — Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan telah 3 hari gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun, tanpa membawa hasil apapun, Rasulullah ﷺ dan rekannya bersiap-siap unntuk pergi ke Madinah.

Mereka berdua mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang sudah matang dan mengetahui seluk beluk jalan. Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang kafir Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya dan menyerahkan 2 ekor onta kepadanya. Setelah 3 malam berada di gua, dia diminta datang ke gua dengan membawa 2 ekor onta itu.

Maka pada malam Senin, 16 September tahun 622 M, Abdullah bin Uraiqith ke gua. Pada saat itu Abu Bakar berkata, “Demi ayahku menjadi jaminan, wahai Rasulullah, ambillah satu ontaku ini.” Dia memilih onta yang paling bagus untuk beliau.

Asma’ binti Abu Bakar datang sambil membawa rangsum makanan untuk perjalanan mereka berdua. Namun rupanya dia lupa tidak membawa tali untuk mengikat rangsum itu. Oleh karena itu selagi beliau dan Abu Bakar sudah naik ke atas punggung onta, dan Asma’ hendak mengikatkan rangsum makanan, maka dia tidak mendapatkan tali pada rangsum itu. Dia segera melepas kain ikat pinggangnya (nithaq) dan menyobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk mengikat rangsum makanan dan satu bagian dia gunakan sebagai ikat pinggang lagi. Karena itu dia dijuluki Dzatun Nithaqain (wanita yang memiliki dua bagian ikat pinggang).

Selanjutnya Rasulullah ﷺ berangkat bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah. Abdullah bin Uraiqith yang menjadi penunjuk jalan mengambil jalan pesisir.

Jalan yang pertama kali ditempuh adalah ke arah selatan menuju jalan Yaman. Baru setelah itu mengarah ke barat menuju pesisir, hingga setelah tiba di jalan yang tidak biasa dilalui orang, perjalanan diarahkan ke utara di dekat pesisir Laut Merah. Ini merupakan perjalanan yang jarang dilalui orang.

Ibnu Ishaq telah menyebutkan tempat-tempat yang dilalui Rasulullah ﷺ dalam perjalanan ini. Dia berkata, “Tatkala penunjuk jalan pergi bersama mereka berdua, dia mengambil jalan di bagian dataran Makkah yang rendah, menuju ke daerah pesisir laut hingga tiba di Usfan, terus melewati dataran rendah Amaj. Abdullah bin Uraiqith meminta izin tentang jalan yang hendak dilalui. Maka dia terus menuntun perjalanan setelah diberi izin untuk melewati Qudaid. Perjalanan diteruskan melewati Al-Harrar, Tsaniyyatul Mararah, Liqfa, Madlajah Liqf, Madlajah Majah, Marijih Mahaj, Marijih Dzil Ghadhwain, Dzi Kasyr, Al-Jadaid, Al-Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti’hin, Al-Ababid, Al-Fajjah, Al-Arj, Tsaniyyatul A’ir dari arah kanan Rakubah, Ri’m, lalu tiba di Quba’.”

>>>[Dinukil dari kitab ArRahiqul Makhtum (Sirah Nabawiyah), karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri] [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×