ArtikelHikmah

Tuntutan Rasulullah saat Berjalan Sendirian atau saat Berjalan Bersama para Sahabat Keharusan mengetahui petunjuk Rasulullah SAW

DDHK.ORG — Dari sini dapat diketahui urgensi kebutuhan hamba yang tidak bisa ditawar tawar lagi untuk mengetahui petunjuk yang dibawa Rasulullah SAW. Sebab, tidak ada jalan untuk mendapatkan keberuntungan kecuali lewat petunjuk itu.

Yang baik dan yang buruk tidak bisa dikenali secara terinci kecuali dari sisi petunjuk itu. Apapun kebutuhan yang datang dan apapun urgensi yang muncul, maka urgensi hamba dan kebutuhannya terhadap Rasul ini jauh lebih penting lagi.

Apa pendapatmu tentang orang yang engkau pun sudah putus asa untuk memberinya petunjuk? Tidak ada yang bisa merasakan hal ini kecuali hati yang hidup. Sebab orang yang mati tidak lagi merasakan sakit.

Jika kebahagiaan tergantung kepada petunjuk Rasulullah SAW, maka siapapun yang menginginkan keselamatan bagi dirinya harus mengenal dan mengetahui petunjuk, sirah, dan keadaan beliau, agar dia terbebas dari jerat orang orang yang bodoh.

Dalam hal ini manusia ada yang mendapat sedikit, mendapat banyak, dan ada pula yang sama sekali tidak mendapatkannya. Karunia hanya ada di tangan Allah, yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendakiNya.

Tuntutan Rasulullah saat berjalan sendirian atau saat berjalan bersama para sahabat

Beliau adalah orang yang paling cepat jalannya, paling bagus jalannya, dan juga tenang. Abu Hurairah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus daripada Rasulullah SAW. Seakan akan matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih cepat jalannya daripada Rasulullah SAW. Seakan akan bumi dijadikan menurun bagi beliau. Sebenarnya kami berusaha untuk menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Ali bin Abu Thalib juga pernah menyipati cara berjalan beliau dengan berkata, “Jika Rasulullah SAW berjalan, maka badannya bergerak seakan akan sedang berjalan di tanah yang landau.”

Begitulah cara berjalannya para pemberani dan mereka yang memiliki semangat. Tidak seperti orang yang sakit sakitan, yang berjalan sepotong demi sepotong.

Dua cara berjalan yang tercela, yaitu pelan pelan seperti orang yang sakit sakitan dan berjalan secara buru buru seperti onta yang ketakutan. Seakan, menggambarkan keadaan pikirannya yang galau. Apalagi, jika dengan banyak menengok ke arah kiri dan kanan.

Yang benar ialah berjalan dengan kerendahan hati, yang menjadi sifat jalannya Ibadurrahman, seperti yang difirmankan Allah, “Dan, hamba hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati.” (Al Furqon: 63)

Orang orang salaf berkata tentang makna ayat ini, “Artinya mereka berjalan dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, tidak congkak, dan tidak seperti sakit sakitan.”

Dinukil dari terjemahan kitab Zadul Ma’ad (Bekal Perjalanan ke Akhirat) karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×