ArtikelHikmah

Rizki Berkah dan Istidraj

Makna Rizki

Rizki ada yang berupa materi, seperti firman Allah di QS Al-Baqarah ayat 233:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Juga, ada yang berupa nonmateri, seperti firman Allah di QS Hud ayat 6:

Baca juga:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

[darsitek number=3 tag=”hikmah”]

Rizki Istidraj

Namun kita harus berhati-hati atas rizki yang kita peroleh. Jangan-jangan, itu adlaah rizki istidraj.

Makna rizki istidraj:

  1. Allah SWT mengabulkan semua hajat hamba-Nya sepanjang waktu untuk membuat lalai sehingga bermaksiat dan kelak akan di adzab.
  2. Allah Mengabulkan semua keinginan hamba-Nya untuk menambah kesesatan dan kemaksiatan yang kelak akan menambah perhitungan adzab di akhirat.

Allah berfirman di QS 7:94-96,

وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّآ اَخَذْنَآ اَهْلَهَا بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتّٰى عَفَوْا وَّقَالُوْا قَدْ مَسَّ اٰبَاۤءَنَا الضَّرَّاۤءُ وَالسَّرَّاۤءُ فَاَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.”

“Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan (sehingga keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan,” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.”

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Allah juga berfirman di QS 7:182-183,

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

وَاُمْلِيْ لَهُمْ ۗاِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ

“Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.”

[darsitek number=3 tag=”artikel”]

Ciri dan Macam Rizki Istidraj

Ada beberapa ciri rizki istidraj. Yaitu, membuat pemiliknya:

  1. Lalai bertaubat (Qs 9:126, QS 32:21, dan QS 46:48).
  2. Bertambah dosa (Qs 3:178).
  3. Bertambah sesat (Qs 61:5, QS 19:73-75).

Rizki istidraj dapat berupa:

  1. Aneka limpahan nikmat (Qs 6:44, QS 9:55).
  2. Panjang Umur (Qs 21:42-44).
  3. Membuat lalai padahal tidak untuk ketaatan tapi tidak diadzab (QS 35:45).

Kisah tentang orang-orang yang diberikan rizki istidraj oleh Allah, yaitu Qorun (QS 28:77-79) dan Fir’aun (QS 10:88).

Mengelola Rizki

Ada beberapa cara mengelola rizki dengan baik, sehingga menghadirkan keberkahan. Yaitu:

  1. Rizki untuk makan (QS 2:172, QS 5:88, QS 6:142). Namun harus diwaspadai makar setan dalam makanan.
  2. Rizki untuk disyiarkan (QS 8:26).
  3. Rizki untuk dijemput (QS 62:11-12).
  4. Rizki untuk menunaikan kewajiban nafkah (QS 2:233).
  5. Rizki untuk dikelola sebelum mati (QS 63:9-11).
  6. Rizki untuk dihadiahkan kepada orang tua dan kerabat (QS 2:215).
  7. Rizki untuk diinfaqkan (QS 2:3).

Berkah dan Rizki

Makna berkah adalah:

  1. Bertambahnya efek kebaikan.
  2. Tercukupinya kebutuhan dan tolak ukurnya bukan keinginan.

Wujud rizki berkah dalam keluarga:

  1. Dicintai pasangan adalah Rizki berkah. “Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugerahi cinta Khadijah.” (HR. Muslim)
  2. Mampu berdoa jimak dan mendapatkan kenikmatan serta kehamilan anak sholih adalah rizki berkah. “Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi istrinya (mengajak bersetubuh), hendaknya mengucapkan; BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBNAS SYAITHAANA WAJANNIBIS SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa (anak) yang akan Engkau rizkikan kepada kami), apabila di antara keduanya ditakdirkan mendapatkan anak dari hasil persetubuhan itu, maka anak tersebut tidak akan dicelakakan setan selamanya.” (HR Muslim)
  3. Penghasilan suami atau istri dari jalan halal adalah rizki berkah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rizkinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah)
  4. Mampu menerima pasangan apa adanya adalah rizki berkah. “Dilarang seorang lelaki yang melamar di atas lamaran saudaranya, menjual di atas penjualan saudaranya, dan seorang wanita tidak boleh meminta agar saudaranya (seiman) diceraikan dan keluarganya cerai-berai, sehingga ia dapat menikahi suaminya, dan hendaklah ia hanya menerima rizki (suami) yang diberikan Allah kepadanya. (HR. Ahmad)
  5. Budaya saling memberi hadiah dalam keluarga adalah rizki berkah. “Barangsiapa diberi sesuatu tanpa meminta terlebih dahulu hendaklah diterima, itu adalah rizki yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Ahmad)

Pintu Keberkahan

Ada beberapa hal yang dapat menjadi pintu hadirnya keberkahan. Yaitu:

Pertama, silaturahim. Selain menambah rizki, silaturahmi juga memperpanjang usia.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, atau ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Muslim: 4638)

Kedua, berwudhu.

سَلْمَانَ قَالَ قَرَأْتُ فِي التَّوْرَاةِ بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ بَعْدَهُ قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَرَأْتُ فِي التَّوْرَاةِ فَقَالَ بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ قَبْلَهُ وَالْوُضُوءُ بَعْدَهُ

“Salman Al Farisi berkata, aku membaca dalam Taurat: Berkah makanan adalah berwudhu selepasnya. Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ dan aku memberitahukan apa yang aku baca kepada beliau. Beliau pun bersabda, “Berkah makanan adalah dengan berwudhu sebelum dan sesudahnya.” (HR. Ahmad: 22616)

Dan, patut kita ketahui bahwa rizki tergantung pada lisan kita. Seperti firman Allah di QS 51:22-23,

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ ٢٢ فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَ ࣖ ٢٣

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”

“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.”

[darsitek number=3 tag=”artikel”]

Makna Usia

Usia bisa bermakna:

  1. Ajal, yaitu masa hidup di dunia (Qs 23:99-100, QS 63:9-11).
  2. Usia, yaitu usia hidup dan usia serasa hidup terus (QS 36:12).

Firman Allah tentang kematian dan penyesalan atas kehidupan yang telah dilalui:

QS 23:99-100,

حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ ٩٩ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”

QS 63:9-11,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩ وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠ وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ ١١

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

QS 36:12,

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ ١٢

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).”

Disampaikan oleh Ustadzah Nur Hamidah Lc, M.Ag., saat kajian Halaqoh Selasa Ekspatriat Perempuan pada tanggal 13 April 2021.

>>>Kajian ini dilakukan secara online menggunakan aplikasi Zoom dan disiarkan secara LIVE di Facebook page Dompet Dhuafa Hong Kong. [DDHK News]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×