ArtikelHikmah

Rasulullah Hijrah: Kejadian saat Perjalanan ke Madinah (Bagian 7)

DDHK.ORG — Inilah beberapa kejadian di tengah perjalanan (ke Madinah):

  1. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., dia berkata, “Semalaman kami mengadakan perjalanan nonstop hingga tengah hari. Jalanan sepi dan tak seorangpun yang lewat di sana. Kami mendapatkan batu besar. Di sisinya tidak terkenan sinar matahari sehingga bisa untuk berteduh. Kami singgah di tempat itu. Aku meratakan tempat dengan tanganku untuk digunakan tidur, kuhamparkan kain kerudung kepala dan kukatakan, ‘Tidurlah wahai Rasulullah, biar kutiup di sekitar engkau.’ Maka beliau pun tidur dan aku meniup-niup di sekitarnya. Tiba tiba aku melihat seorang penggembala mendatangi tempatku, batu besar ini, juga dengan maksud untuk berteduh.

“Engkau penggembala milik siapa?” aku bertanya.

“Seseorang dari penduduk Madinah,” atau dia menjawab, “Seseorang dari penduduk Makkah.”

“Apakah di antara domba-dombamu ada yang susunya bisa diperah?”

“Ada”, jawab penggembala.

“Apakah engkau mau memerahnya?”

“Bisa,” jawabnya sambil mengambil seekor domba.

“Tiuplah susunya agar bersih dari debu, rambut dan kotorannya,” kataku.

Penggembala itu memerah susu dan aku membawakan sekantong air untuk minum dan wudhu. Kudatangi Nabi ﷺ yang masih tidur. Aku merasa enggan untuk membangunkan beliau. Aku menyodorkannya setelah beliau bangun. Kutuangkan air ke susu agar bawahnya menjadi dingin.

“Minumlah wahai Rasulullah!” Maka beliau minum dan aku pun merasa puas.

“Bukankah sekarang sudah tiba saatnya untuk melanjutkan perjalanan?” Beliau bertanya.

“Ya,” jawabku. Maka kami pun melanjutkan perjalanan.

  1. Di antara kebiasaan Abu Bakar adalah membonceng di belakang Nabi ﷺ. Sementara dia adalah orang tua yang sudah banyak dikenal, sedangkan beliau lebih muda dan belum banyak dikenal orang. Di tengah perjalanan itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Bakar, “Siapakah orang yang di depanmu itu?”

Abu Bakar menjawab, “Dia adalah orang yang menunjukkan jalan kepadaku.”

Orang itu mengira bahwa yang dimaksudkan adalah penunjuk perjalanan. Padahal yang dimaksudkan Abu Bakar adalah jalan kebaikan.

  1. Perjalanan mereka sempat dibuntuti Suraqah bin Malik. Suraqah menuturkan, “Tatkala aku sedang duduk mengikuti sebuah pertemuan yang diselenggarakan kaumku, Bani Mudlij, tiba-tiba seorang laki-laki dari kaumku mendatangi tempatku. Sementara kami semuanya sedang duduk-duduk. Orang itu berkata kepadaku, “Wahai Suraqah, sesungguhnya tadi aku melihat beberapa orang yang mengadakan perjalanan di pesisir. Kupikir dia adalah Muhammad dan rekan-rekannya.”

Aku yakin memang yang dimaksudkan orang ini adalah Muhammad dan rekan-rekannya. Namun kukatakan kepadanya, “Itu bukan mereka. Yang engkau lihat itu hanyalah Fulan dan Fulan yang pergi agar tidak kita lihat.”

Aku tetap berada dalam pertemuan itu untuk beberapa saat. Tak lama kemudian aku bangkit dan pulang ke rumah. Kusuruh pembantuku untuk mengeluarkan kuda dari belakang bukit dan menungguku di sana hingga aku datang. Kuambil tombak dan aku keluar rumah dari pintu belakang hingga tiba di tempat kudaku.

Kupacu kudaku dengan kencang. Namun tatkala aku sudah mendekati Muhammad dan rekan-rekannya, kudaku tergelincir dan aku pun terpental jatuh. Aku segera bangkit lagi. Kupungut kantong anak panah dan kukeluarkan anak panah, namun aku ragu-ragu menggunakannya, aku harus membidiknya ke arah mereka atau tidak.

Kunaiki lagi kudaku dan kupacu lagi hingga jarakku dengan mereka menjadi dekat. Tatkala bisa kudengar bacaan Rasulullah yang sama sekali tidak meoleh ke arah belakang, sementara Abu Bakar terus-menerus menoleh, tiba-tiba kedua kaki kudaku yang depan terperosok ke dalam pasir hingga ke lutut.

Aku turun dari punggung kuda dan kucambuki kudaku agar mau bangun. Namun ia tidak bisa mengeluarkan kaki depannya dari pasir. Tatkala kudaku bisa mengeluarkan kakinya dari pasir dan bisa berdiri lagi, maka bersamaan dengan itu banyak debu yang bertaburan di udara. Aku ragu-ragu untuk menggunakan anak panahku. Ini adalah sesuatu yang sangat kubenci.

Aku pun tidak berdaya dan berseru kepada mereka agar aku tidak diapa-apakan. Mereka pun berhenti. Aku menaiki kudaku dan menghampiri mereka. Kubayangkan, pasti mereka akan menahan diriku dan Rasulullah bisa berbuat apapun.

Kukatakan kepada Rasulullah, “Sesungguhnya kaummu menyiapkan hadiah besar untuk bisa menangkap engkau.” Kukabarkan pula apa saja yang dilakukan orang-orang. Lalu kutawarkan perbekalan dan harta kepada mereka, namun mereka tidak memedulikan tawaranku ini. Mereka tidak meminta apa-apa kepadaku, selain hanya berkata, “Rahasiakan perjalanan kami.” Lalu aku meminnta tulisan yang bisa menjamin keamanan diriku. Untuk itu Amir bin Fuhairah diperintahkan untuk mennuliskannya di sebuah lembaran kulit. Setelah itu Rasulullah melanjutkan perjalanannya.”

Dalam riwayat dari Abu Bakar, dia berkata, “Kami melanjutkan perjalanan dan orang-orang berusaha mencari kami. Namun tak seorang pun yang bisa menemukan kami, kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syum dengan menaiki kudanya.

“Rupanya ada yang menemukan kita wahai Rasulullah,” kataku.

Beliau bersabda, “Janganlah engkau takut. Sesungguhnya Allah beserta kita.”

Akhirnya Suraqah pulang dan mendapatkan orang-orang masih berusaha mencari. Maka dia berkata, “Aku tidak memperoleh kabar apa-apa untuk kalian. Lebih baik kalian diam saja di sini.”

Begitulah Suraqah, yang pada pagi harinya bersemangat mencari Rasulullah ﷺ, namun pada sore harinya dia menjaga beliau.

  1. Beliau melanjutkan perjalanan hingga melewati tenda Ummu Ma’bad. Dia adalah seorang wanita yang terkenal sabar dan tekun, duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada siapapun yang melewati tendanya. Maka saat melewatinya Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar meminta sesuatu yang ada padanya.

“Demi Allah, andaikan kami mempunyai sesuatu, tentulah kalian tidak kesulitan mendapatkan suguhan. Sementara domba-domba itu tidak ada yang mengandung dan ini adalah tahun paceklik,” kata Ummu Ma’bad.

Rasulullah ﷺ memandangi seekor domba betina di samping tenda. Beliau bertanya, “Ada apa dengan domba betina ini wahai Ummu Ma’bad?”

“Itu adalah domba betina yang sudah tidak lagi melahirkan anak,” jawabnya.

“Apakah ia masih mengeluarkan air susu?” tanya beliau.

“Ia sudah terlalu tua untuk itu,” jawabnya.

“Apakah engkau mengizinkan bila aku memerah susunya?”

“Boleh, demi ayah dan ibuku,” jawab Ummu Ma’bad. “Jika memang engkau melihat domba itu masih bisa diperah susunya, maka perahlah!”

Beliau mengusap kantong kelenjar susu domba itu dengan menyebut asma Allah dan berdoa. Seketika itu kantong kelenjarnya menggelembung dan membesar. Beliau meminta bejana milik Ummu Ma’bad, lalu memerah susunya dan menadahi dengan bejana itu.

Susu itu beliau berikan kepada Ummu Ma’bad, yang langsung meminumnya hingga kenyang, baru kemudian beliau sendiri yang minum. Kemudian beliau memerah susu lagi hingga bejana itu penuh, lalu meninggalkannya untuk Ummu Ma’bad. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Tak seberapa lama kemudian suaminya datang sambil menggiring domba-domba yang kurus dan lemah. Dia tak sanggup menutupi keheranannya tatkala melihat ada air susu di samping istrinya.

“Dari mana ini?” tanya Abu Ma’bad. “Padahal domba-domba itu mandul tidak lagi mengandung dan tidak lagi bisa diperah di dalam rumah.”

“Tidak, demi Allah. Tadi ada seorang laki-laki yang lewat membawa barakah, bicaranya begini dan begini, keadaannya begini dan begini.”

“Demi Allah, itu adalah seorang dari kabilah Quarisy yang sedang mereka cari-cari. Kaakanlah kepadaku wahai Ummu Ma’bad bagaimana ciri-cirinya!”

Maka Ummu Ma’bad menyebutkan ciri-ciri beliau secara jelas, seakan-akan orang yang mendengarnya bisa melihatya secara langsung. Tentang sifat-sifat beliau ini akan kami paparkan di bagian akhir tulisan ini.

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, dia adalah orang Quraisy yang agamanya selalu mereka sebut-sebut. Sebenarnya aku ingin sekali ikut besertanya, dan aku benar-benar akan melaksanakannya jika ada jalan untuk itu.”

Pada saat itu terdengar suara nyaring di Makkah, yang bisa didengar penduduk Makkah, namun mereka tidak tau siapa yang mengucapkannya. Suara itu adalah:

“Allah Penguasa Arsy melimpahkan pahala yang terbaik. Dua orang yang lemah lembut lewat di tenda Ummu Ma’bad.

Mereka melanjutkan perjalanan setelah singgah barang sejenak. Sunngguh beruntunglah orang yang selalu menyertai Muhammad. Ceritakanlah apa yang disingkirkan Allah dari kalian. Karena perbuatan orang-orang yang tidak mendapat balasan. Bani Ka’b benar-benar menjadi hina karena anak-anak gadisnya. Tanah yang subur adalah tempat duduk bagi mereka yang percaya. Tanyalah saudari kalian tentang domba dan bejananya. Jika kalian tanyakan domba itu tentu akan melihatnya.”

Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Kami tidak tau ke arah mana Rasulullah ﷺ pergi. Lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki layaknya jin yang meuncul di dataran rendah di Makkah, sambil melantunkan bait-bait syair ini. Sementara orang-orang bisa mendengar dan mencari jejaknya, namun mereka tidak bisa melihat siapa yang mengucapkannya. Bahkan suara itu juga muncul dari dataran Makkah yang tinggi. Tatkala kami mmendengarnya, maka taulah kami bahwa Rasulullah ﷺ sudah berjalan ke arah Madinah.”

  1. Di tengah perjalanan ini Nabi ﷺ bertemu dengan Abu Buraidah, pemimpin kaumnya. Dia pergi untuk mencari beliau dan Abu Bakar, dengan harapan bisa mendapatkan hadiah yang telah diumumkan Quraisy. Tatkala dia sudah berhadapan dengan Rasulullah ﷺ dan beliau mengajaknya berbicara, maka seketika itu dia masuk Islam bersama 70 orang dari kaumnya. Dia melepas ikat kepalanya dan mengikatkan di tombaknya sebagai bendera, sambil berseru, bahwa pemimpin yang membawa keamanan dan perdamaian telah datang untuk memenuhi dunia dengan keadilan.
  2. Di tengah perjalanan, Rasulullah ﷺ juga bertemu dengan Az-Zubair yang sudah masuk Islam, beserta sekumpulan kafilah dagang yang pulang dari Syam. Az-Zubair memberikan kain putih kepada beliau dan Abu Bakar.

>>>[Dinukil dari kitab ArRahiqul Makhtum (Sirah Nabawiyah), karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri] [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×