fbpx
17.8 C
Hong Kong
4 Maret 2021

Serban dan Jubah Bukan Pakaian Islam

- Advertisement -

serban jubah surbanDDHK News, Indonesia —  Tokoh ulama NU dari Jombang, KH Musthofa Bisri (Gus Mus), meyatakan serban (sorban/surban) bukan pakaian Islam. “Sejatinya, sorban dan jubah adalah pakaian ala Timur Tengah, Arab. Bukan pakaian Islam,” katanya di hadapan ratusan kyai dan tokoh agama se Jawa Tengah dalam acara Mahrajan (Festival) Wali-wali Jawi di Pendopo Kabupaten Demak, Sabtu (22/2/2014).

Menurut Gus Mus, saat ini banyak mubaligh yang sudah tidak memahami dakwah mengajak. Artinya, saat ini dakwah di Indonesia tidak lagi sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad.

“Lebih sering mengafirkan dari pada dakwah bil hikmah,” ujar Gus Mus dalam sarasehan bertajuk “Menapak Jejak Auliya, Meneladani Kearifan Mengajak” itu.

Pakian jubah dan sorban yang dilabeli sebagai pakaian Islam, dinilai sebagai bentuk kapitalisasi Islam. Pasalnya, Islam Kapitalis menjadikan Islam arabia tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Semestinya para mubaligh menempatkan Islam sebagaimana yang dilakukan para wali yang menghargai budaya lokal.

“Jubah dan Sorban itu bukan pakaian Islam, tetapi pakaian Arab. Kenapa Nabi Muhammad memakai jubah dan berjenggot, ya, karena beliau hidup di kebudayaan Arab,” urai Gus Mus.

“Abu Jahal pun pakai sorban dan jubah,” tandas Gus Mus seperti dikutip jaringnews.com.

Bisa Haram

Sebelumnya, hal senada dikemukakan pakar Ilmu Hadits yang menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub. Menurutnya, mengenakan serban dan jubah bisa masuk kategori pakaian syuhrah yang haram dipakai.

Dalam sebuah tulisan di Republika Online, “Serban dan Jubah Haram”,  Prof. Ali memaparkan, dalam kitab Sunan Ibn Majah, ada hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, Allah SWT akan memakaikannya pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian ia dibakar di api neraka.”

Menurut para ulama, pakaian syuhrah adalah pakaian yang berbeda dari pakaian yang dipakai penduduk negeri di mana pemakainya tinggal.

Disebut pakaian syuhrah (popularitas) karena pemakainya dengan pakaian tersebut ingin mudah dikenal oleh orang-orang.

Pakaian syuhrah adakalanya berbeda dari pakaian umumnya penduduk suatu negeri karena terlalu bagus atau berbeda karena terlalu buruk.

Ketika pakaian itu berbeda dengan yang lain karena terlalu bagus, pemakainya ingin tampil berbeda dari orang-orang pada umumnya. Akibatnya, dia merasa berbeda dari yang lain sehingga kemudian ia merasa bangga, sombong, ria, sum’ah, dan lain sebagainya.

Ketika pakaian itu berbeda karena sangat lebih buruk dari pakaian orang-orang pada umumnya, pemakainya ingin disebut sebagai orang yang zuhud, tidak mencintai dunia, dan lain sebagainya. Berdasarkan hadis ini, para ulama sepakat pakaian syuhrah adalah haram dikenakan.

Dalam konteks Indonesia masa kini, pakaian sejenis serban dan jubah, yang di Saudi Arabia disebut tub, dapat masuk kategori pakaian syuhrah karena masyarakat Indonesia tidak lazim berpakaian seperti itu.

Pada abad lalu, serban dan jubah mungkin sudah menjadi tradisi pakaian ulama. KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Syeikh Ahmad al-Syurkati, Imam Bonjol, dan lain-lain, memakai serban. Maka pada masa itu, serban sudah menjadi tradisi para ulama.

Karenanya, sah-sah saja, ulama memakai serban. Dasarnya adalah mengikuti tradisi. Memang, dalam hadis yang sahih, Nabi SAW memakai serban karena bangsa Arab pada waktu itu juga mengenakan serban.

Maka, serban (membungkus kepala dengan dua sampai tiga ubel-ubel) adalah tradisi bangsa Arab pada saat itu. Orang Islam dan orang musyrikin juga sama-sama memakai serban.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan al-Tirmidzi, Nabi SAW bersabda, ”Perbedaan antara serban kita dengan serban orang musyrikin adalah memakai kopiah lebih dahulu.”

Para ulama papan atas dari Saudi Arabia seperti, Mufti besar Syekh bin Baz rahimahullah, Mufti besar masa kini, Syekh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syekh Shaleh bin Muhammad al-‘Utsaimin, dan lain-lain, semuanya sepakat memakai serban bukan merupakan ibadah.

Tidak sunah apalagi wajib, namun hanya mengikuti tradisi bangsa Arab pada saat itu. Hal itu harena tidak ada satu hadis pun yang sahih yang menerangkan keutamaan memakai serban. Semua hadis tentang keutamaan memakai serban adalah hadis-hadis palsu.

Menurut para ulama itu, sunah Nabi dalam berpakaian adalah kita berpakaian dengan pakaian yang lazim dipakai oleh masyarakat di mana kita berada, kecuali apabila kita menjadi tamu di sebuah negeri, kita boleh memakai pakaian negeri kita sendiri, seperti orang Indonesia yang sedang beribadah haji di Mekah. (jaringnews.com/republika.co.id).*

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

DDHK Newshttp://ddhk.org
Alamat: Flat D, 3/F Lei Shun Court, 116 Leighton Rd, Causeway Bay, Hong Kong
Para Dai DD Harus Kedepankan Persaudaraan Penuh Kasih Sayang

Para Dai DD Harus Kedepankan Persaudaraan Penuh Kasih Sayang

DDHK.ORG -- Para dai Dompet Dhuafa (DD) diharapkan menggunakan pendekatan Islam yang rahmatan lil 'alamin, melakukan dakwah-dakwah transformatif, mengedepankan persaudaraan penuh kasih sayang, menjunjung...
Srikandi Laut Tanah Rencong

Srikandi Laut Tanah Rencong

Akademi Militer Kesultanan Aceh Darussalam sedang sibuk. Lapangan depan istana telah dihadiri ribuan warga Aceh. Mereka ingin menyaksikan peristiwa besar hari itu: wisuda lulusan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

29,468FansSuka
552PengikutMengikuti
263PelangganBerlangganan
- Advertisement -

KABAR TERBARU

- Advertisement -
×