BeritaIndonesia

Menteri Penerangan Orde Baru Harmoko Meninggal Dunia

DDHK.ORG — Mantan Menteri Penerangan era Orde Baru, Harmoko, meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Ahad (4/7/2021) malam. Kabar wafatnya eks Ketua Umum Golkar tersebut diperoleh dari Ketua Fraksi Golkar di MPR, Idris Laena.

Kepala RSPAD Letjen TNI Albertus Budi Sulistya saat dikonfirmasi mengatakan mendiang Harmoko menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 20.22 WIB. “Baru [masuk IGD]. Jadi hitungannya menit. Langsung ke IGD sudah penurunan kesadaran kemudian kita coba lakukan tindakan medis. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Jadi memang singkat sekali di IGD,” ujarnya, Minggu malam.

Semasa hidupnya, Harmoko dikenal sebagai mantan wartawan yang kemudian berkarier politik di bawah naungan Golkar. Ia menjalani karier sebagai wartawan selama 23 tahun, sejak lulus SMA dan mulai bekerja di harian Merdeka pada awal 1960an.

Selanjutnya, ia pindah ke harian Angkatan Bersenjata pada 1964. Hanya berselang setahun, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini berpindah lagi ke harian API yang dikenal sebagai media yang ‘Pancasilais’ pada waktu itu.

Pada saat yang sama, Harmoko juga menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko. Hingga akhirnya pada 1970, Harmoko bersama Jahja Surjawinata, Tahar S Abiyasa, dan Pansa Tampubolon menerbitkan surat kabar berbasis di Jakarta, Pos Kota.

Dalam perjalanan karier politiknya, Harmoko pernah menjadi menteri penerangan selama 3 periode Kabinet Pembangunan di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Harmoko menjabat di kabinet pembangunan IV, V, hingga sebagian VI atau dari 1983 hingga 1997.

Semasa menjabat sebagai Menteri Penerangan, Harmoko adalah pencetus gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) yang disiarkan televisi nasional, TVRI.

Karier politik Harmoko berakhir sebagai Ketua DPR/MPR yang mengangkat Soeharto sebagai presiden pada 1998 silam. Namun, Harmoko pula yang membisikkan agar Soeharto kembali maju jadi presiden pada 1998, dan dia pula yang meminta sang penguasa Orba itu untuk mundur pada Mei 1998. [Sumber: CNN Indonesia] [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×