Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Jalur Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki. Demikian dilaporkan Komisi Penyelidik PBB.
Laporan terbaru komisi tersebut menuduh bahwa pemerintah dan pasukan keamanan Israel secara sengaja melakukan tindakan yang menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina. Bahkan, menurut komisi itu, pembunuhan terhadap anak-anak Palestina terus berlanjut bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu.
“Komisi tersebut mengatakan punya dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan Israel merupakan bagian dari strategi yang disengaja untuk menghancurkan masa depan rakyat Palestina di Gaza dengan menargetkan anak-anak mereka,” tulis Kompas, Rabu (24/6/2026).
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan pihaknya sepenuhnya menolak laporan komisi tersebut. Kementerian itu juga menyebutnya sebagai fitnah palsu dan sebuah karya propaganda yang sama keterlaluan dengan laporan-laporan sebelumnya.
Sejak Oktober 2023, militer Israel melancarkan operasi militer di Gaza. Sedikitnya 73.035 orang telah tewas di Gaza, termasuk lebih dari 21.280 anak-anak, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas, yang angkanya dianggap dapat diandalkan oleh PBB.
Laporan baru Komisi Penyelidik PBB menyebut Israel telah secara langsung menargetkan anak-anak Palestina di Gaza dengan menembak organ vital mereka menggunakan senjata presisi, seperti drone quadcopter dan penembak jitu. Israel juga menggunakan senjata berdaya ledak tinggi dalam serangan terhadap bangunan perumahan, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipadati anak-anak.
Mereka bertanggung jawab secara hukum karena gagal melindungi anak-anak Palestina dari menjadi sasaran tentara Israel dan para pemukim di Tepi Barat, tambah laporan tersebut. Laporan itu juga mengatakan bahwa anak-anak di Gaza dan Tepi Barat, terutama remaja laki-laki, telah ditangkap, disiksa, dan diperlakukan buruk di penjara serta fasilitas penahanan Israel.
“Komisi penyelidik PBB menyatakan telah mendokumentasikan insiden kekerasan seksual dan berbasis gender yang menargetkan anak-anak Palestina, sering kali selama penangkapan atau di dalam tahanan,” tulis Kompas.
Serangan Israel terhadap rumah sakit bersalin dan pediatrik di Gaza juga secara sistematis menghancurkan akses anak-anak terhadap perawatan yang menopang kehidupan, merusak peluang kelangsungan hidup mereka sebagai kelompok yang dilindungi. Laporan itu juga menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai metode perang, dan memperingatkan bahwa pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza telah menyebabkan kekurangan gizi akut dan kronis di kalangan anak-anak Gaza, menghilangkan kondisi dasar yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka.
Selain itu, laporan tersebut menyatakan bahwa melalui serangan terhadap sekolah, pemindahan massal, dan penutupan paksa, otoritas Israel telah secara sistematis mengganggu kemampuan anak-anak untuk belajar, sehingga merusak fondasi intelektual dan sosial masyarakat Palestina itu sendiri. Pada Selasa (23/6/2026), komisi penyelidik PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersama laporan itu bahwa skala yang intens dan sifat sistematis operasi militer Israel di Gaza terus berlanjut.
Akibatnya, terdapat jumlah kematian, cedera, dan trauma yang belum pernah terjadi sebelumnya pada anak-anak Palestina. “Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus terbunuh dan terluka parah, dengan terus diabaikannya gencatan senjata oleh Israel serta perlindungan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak Palestina berdasarkan hukum internasional,” kata Srinivasan Muralidhar, ahli hukum asal India yang memimpin komisi tersebut, sebagaimana dilansir Kompas.
“Perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak terpisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kapasitas rakyat Palestina untuk terus ada dan menentukan masa depan mereka,” ujarnya.





