Memori kelam dalam ingatan Zulfarida (30) masih melekat. Malam itu, November 2025, hujan deras datang tanpa permisi saat ia tengah sibuk berjualan bakso di kediamannya, Dusun Melati, Kampung Bukit Tempurung, Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
Semakin lama, ia melihat air hujan semakin deras, perempuan tangguh yang membesarkan tiga buah hatinya sendirian (single parent) ini bergerak cepat. Ia melarikan dua anaknya yang berusia 8 dan 6 tahun keluar rumah, menitipkannya pada warga sekitar, lalu nekat kembali melintasi arus deras demi menyelamatkan si bungsu yang masih bayi berusia satu tahun.
Kemudian Zulfarida terjebak banjir hingga pukul empat pagi keesokan harinya sebelum berhasil menyelamatkan diri ke lantai atas di sebuah ruko. Selama empat hari mereka terisolasi tanpa makanan dan minuman, ASI-nya berhenti mengalir karena tubuhnya yang teramat lemah dan sakit. Si bayi mulai terserang demam hingga muntaber. Dalam keputusasaan, ia menggendong buah hatinya menerjang pekatnya lumpur demi mencari jalan keluar.
“Tadinya saya sudah putus asa sekali, rasanya tidak mau melakukan apa-apa lagi. Anak-anak bahkan sempat saya ‘liburkan’ dari sekolah,” kenang Zulfarida dengan nada lirih.
Setelah pengalaman buruk itu, ia pun berupaya mencari harapan pergi ke Medan, memohon pertolongan kepada saudaranya selama dua bulan. Kemudian mereka kembali ke Aceh Tamiang menumpang hidup sementara di rumah kerabat tanpa menyisakan sepeserpun uang. Beruntung, kepedulian warga Kampung Durian membawanya bertemu dengan uluran tangan kemanusiaan Dompet Dhuafa.
Bencana hidrometeorologi dahsyat yang melanda belasan kabupaten/kota di Provinsi Aceh serta wilayah Sumatra Utara dan Barat memang menyisakan luka mendalam. Berdasarkan data BNPB, lebih dari 400 jiwa melayang dan 171.379 unit rumah rusak. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu titik yang terdampak paling parah, dengan lebih dari 208.000 warga mengungsi dan ribuan rumah hanyut tersapu arus.
Memasuki pertengahan tahun 2026, kondisi di lapangan telah bertransisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan dan rekonstruksi. Di tengah perjuangan pemulihan ini, Dompet Dhuafa menghadirkan program Rumah Sementara (Rumtara) untuk menyangga hidup kelompok rentan.
Di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Dompet Dhuafa mendirikan Klaster Rumtara sebanyak 117 unit di atas lahan seluas 1,5 hektar. Bangunan berukuran 4,8 x 4,8 meter ini didedikasikan khusus bagi penyintas rentan seperti janda, lansia, anak yatim, hingga guru honorer yang kehilangan tempat tinggal.
Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, menyampaikan bahwa Rumtara dirancang untuk mengembalikan martabat para penyintas agar tak berlama-lama di dalam tenda pengungsian.
“Pembangunan Rumtara ini untuk memenuhi kebutuhan pemulihan penyintas, minimal memindahkan mereka dari tenda ke hunian yang lebih nyaman. Melalui Rumtara, Dompet Dhuafa ingin menghadirkan lebih dari sekadar bangunan fisik, kami ingin menghadirkan harapan bahwa setelah bencana, masih ada masa depan yang bisa diperjuangkan,” ungkap Shofa.
Kini, kehidupan Zulfarida dan ketiga anaknya mulai tertata kembali dari nol sejak menempati unit Rumtara yang turut didukung oleh mitra kebaikan HMNS—jenama parfum ternama Indonesia, di Kampung Durian. Walau kehidupan di dalam rumah sementara masih menyisakan tantangan—seperti rembesan air saat hujan deras atau cuaca panas di tengah musim kemarau ekstrim—atap ini telah menjadi benteng pertahanan pertamanya untuk bangkit.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan lahan pelepasan HGU seluas 179 hektar di Aceh Tamiang untuk membangun lebih dari 4.000 unit Hunian Tetap (Huntap) permanen hingga tahun 2027 mendatang. Namun bagi Zulfarida, fokus utamanya hari ini adalah memastikan senyum dan masa depan anak-anaknya tidak kembali terenggut.
Ketika ditanya mengenai harapannya untuk hari esok, Zulfarida sempat berdiam diri cukup lama. Air matanya menetes pelan sebelum mengalirkan kata-kata yang lahir dari ketulusan seorang ibu.
“Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak. Jangan sampai mereka putus sekolah, dan jangan sampai mereka merasakan tidak makan lagi,” rintihnya penuh haru.
Rumtara Dompet Dhuafa mungkin bukanlah akhir dari perjalanan pemulihan ini. Di balik kesederhanaan dinding Rumtara, kisah Zulfarida menjadi bukti nyata bahwa bantuan yang tersalurkan tak hanya mendirikan tiang dan atap, melainkan juga merajut kembali harapan seorang ibu untuk terus memperjuangkan masa depan buah hatinya. (Sumber: Dompet Dhuafa)




