Banjir bandang yang menerjang Sumatra pada penghujung tahun 2025 lalu masih membekas jelas di ingatan Nenek Deswarni (72). Warga Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang ini ingat betul bagaimana air datang begitu cepat dan kencang, menghantam permukiman dan memaksa warga berlari menyelamatkan nyawa tanpa sempat membawa harta benda.
“Waktu itu tiba-tiba air datang sangat kencang. Kami lari semua. Keluarga berpencar, anak-anak tinggal beda kota. Kami warga berpindah-pindah tempat sampai tiga kali selama 10 hari, sampai akhirnya mengungsi di pesantren. Rumah kami hancur semua, tidak bisa digunakan lagi,” kenang Nenek Deswarni dengan suara bergetar.
Bencana hidrometeorologi dahsyat yang melanda Provinsi Aceh serta sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Barat tersebut menyisakan duka mendalam. Lebih dari 400 korban jiwa melayang dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 171.379 unit rumah rusak. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah; lebih dari 208.000 warganya kehilangan tempat tinggal.
Bagi Nenek Deswarni, ujian tak berhenti saat banjir mereda. Persyaratan administratif seperti surat tanah—yang hanyut tergerus arus—sempat menjadi pengganjal untuk mendapatkan akses bantuan hunian. Di usianya yang telah senja, nenek dengan 13 cucu ini sempat terancam terlunta-lunta tanpa kepastian atap untuk berteduh.
“Salah satu syarat untuk mendapatkan bantuan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) itu harus punya surat-surat rumah yang lama. Sedangkan semua sudah habis dan hancur terbawa banjir,” aku, Nenek Deswarni.
Memasuki pertengahan tahun 2026, Aceh Tamiang mulai bertransisi dari masa tanggap darurat menuju fase pemulihan dan rekonstruksi. Di tengah perjuangan tersebut, Dompet Dhuafa menghadirkan bantuan melalui program Rumah Sementara (Rumtara). Rumtara diinisiasi sejak akhir 2025 dengan target 1.000 unit di wilayah terdampak Sumatra. Program ini hadir sebagai solusi cepat untuk memindahkan para penyintas dari tenda pengungsian ke hunian yang lebih layak dan bermartabat.
Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, menegaskan bahwa Rumtara dirancang untuk memenuhi kebutuhan paling krusial kelompok rentan, seperti lansia, janda, anak yatim, juga guru honorer.
“Pembangunan Rumtara ini untuk recovery memenuhi kebutuhan penyintas, minimal memindahkan tempat tinggal mereka dari tenda ke bangunan yang lebih nyaman. Melalui Rumtara, Dompet Dhuafa ingin menghadirkan lebih dari sekadar bangunan fisik. Kami ingin menghadirkan harapan bahwa setelah bencana, masih ada masa depan yang bisa diperjuangkan,” terang Shofa.
Di Kampung Durian ini, Dompet Dhuafa mendirikan Klaster Rumtara sebanyak 117 unit di atas lahan seluas 1,5 hektar. Setiap unit Rumtara berukuran 4,8 x 4,8 meter dan berdiri di atas tapak lahan bekas rumah warga maupun area relokasi. Sudah dua bulan terakhir, Nenek Deswarni menempati Rumtara Dompet Dhuafa yang bersinergi dengan para mitra kebaikan, salah satunya adalah Agung Podomoro Land.
“Alhamdulillah, senang dan bersyukur sekali dapat bantuan Rumtara ini. Sempat tidak tahu lagi sebelumnya akan hidup bagaimana? Terima kasih, para donatur,” tutur Nenek Deswarni penuh haru.
Rumtara Dompet Dhuafa mungkin bukanlah akhir dari perjalanan pemulihan ini. Namun, di antara dinding-dinding kayu sederhananya, atap ini telah mengembalikan martabat dan memberikan ketenangan bagi Nenek Deswarni dan banyak penyintas lainnya di Aceh Tamiang untuk kembali meyakini bahwa esok hari masih layak untuk diperjuangkan. [Sumber: Dompet Dhuafa]




