Sebagai upaya pembangunan dan perwujudan Masjid Al Muttaqin (Mualaf & Islamic Cultural Center di Chiba, Jepang) Dompet Dhuafa menjalin sinergi dan kolaborasi strategis lintas lembaga melalui Pertemuan Konsorsium Perwujudan Masjid Al Muttaqin Chiba, Jepang, pada Selasa (7/7/2026), di Sasana Budaya Rumah Kita, Philanthropy Building, Jakarta Selatan. Pertemuan ini menjadi wadah untuk memaparkan program, membangun kesamaan pemahaman, serta menjajaki bentuk dukungan dan kolaborasi lintas lembaga dalam penguatan campaign dan penggalangan dukungan bagi pembangunan masjid.
Untuk mewujudkan pembangunan tersebut, Dompet Dhuafa mengundang partisipasi berbagai pihak, termasuk lembaga zakat, wakaf, filantropi, Mitra Pengelola Zakat (MPZ) serta para donatur yang memiliki kepedulian terhadap penguatan sarana ibadah umat.
Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet dhuafa membuka gelaran tersebut. Ia berharap dukungan masyarakat makin luas, baik dalam bentuk donasi maupun komitmen menggalang dana, sehingga proses pembebasan gedung dan renovasi dapat segera direalisasikan.
“Kami mengajak agar lembaga-lembaga tersebut ikut serta mendukung untuk mewujudkan perwujudan Masjid dan Islamic Cultural Center ini dan di kesempatan ini kami juga mendengarkan masukan tentang program-program yang bisa dilakukan nantinya. Nantinya Masjid akan diperuntukan berbagai kegiatan untuk sarana ibadah, sarana pendidikan Islam sarana pembinaan mualaf termasuk juga untuk syiar Islam Indonesia yang moderat yang damai yang baik yang bersahabat ke masyarakat Jepang dan bahkan ke seluruh dunia,” ujar Juwaini.
Masjid Al Muttaqin (Mualaf & Islamic Cultural Center), Matsudo, Chiba, Jepang diinisiasi sebagai ikhtiar untuk menghadirkan sarana ibadah, pusat pendidikan Islam, pembinaan mualaf, serta layanan sosial bagi masyarakat Muslim di Matsudo, Chiba, Jepang.
Saat ini Muslim di Jepang adalah kelompok minoritas. Pertumbuhan komunitas Muslim di Jepang terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Namun, peningkatan jumlah Muslim tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan fasilitas ibadah dan pusat pembinaan keislaman yang memadai.
Berdasarkan survei yang dilakukan Tanada Hirofumi pada tahun 2024, jumlah Muslim di Jepang diperkirakan mencapai sekitar 420.000 orang pada 2025. Angka tersebut meningkat pesat dibandingkan tahun 1990 yang saat itu hanya sekitar 30.000 Muslim. Namun, jumlah masjid yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan umat Muslim. Saat ini, Jepang hanya memiliki sekitar 167 masjid yang tersebar di berbagai wilayah.
Jepang dikenal sebagai negara dengan budaya yang kuat dan masyarakat yang menjunjung tinggi keseragaman sosial. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga Muslim, terutama dalam menerapkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak mereka.
“Anak-anak Muslim yang lahir dan besar di Jepang tidak banyak mendapatkan lingkungan islami. Bahkan banyak yang tidak pernah mendengar suara azan karena tidak ada masjid di sekitar mereka,” jelas Ahmad Firman Wahyudi, Pembina Rumah umat Muslim Indonesia Chiba (Rumuichi).
Minimnya ekosistem pembinaan Islam juga berdampak pada keberlangsungan keislaman generasi muda dan para mualaf. Menurut Firman, sebagian anak Muslim generasi kedua mengalami kehilangan identitas keislamannya karena tidak mendapatkan pendampingan agama secara berkelanjutan.
Selain itu, para mualaf di Jepang juga menghadapi tantangan serupa. Banyak masyarakat Jepang yang memeluk Islam, terutama karena faktor pernikahan, namun setelah bersyahadat mereka kesulitan mendapatkan tempat belajar dan pembinaan agama secara konsisten.
“Konsepnya bukan hanya masjid, tetapi Islamic Cultural Center. Kami ingin menghadirkan ruang yang bisa menjadi rumah bagi Muslim dan tetap harmonis dengan budaya Jepang. Tempat ini bisa menjadi rumah bersama bagi Muslim, tempat anak-anak belajar Islam, para mualaf mendapatkan pendampingan, dan komunitas dapat tumbuh bersama,” Ujar Firman.
Wahfiudin Sakam, Anggota Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa, menegaskan bahwa pembangunan Masjid Al Muttaqin dan Islamic Cultural Center perlu dipandang sebagai bagian dari gerakan peradaban Islam dalam lingkup global, bukan sekadar kepentingan komunitas tertentu, wilayah Jepang, lembaga zakat, maupun Indonesia. “Perspektif yang harus kita kembangkan, kita bangun ini sebagai sebuah gerakan peradaban Islam dalam scoop Global, tapi bagaimana perilaku Islam mengendalikan dunia lagi? Kita mulai ke sana, bersatu. Jadi bangunlah itu dalam campaign kita. Sudah saatnya kita membangun kembali peradaban Islam global. Sekarang kita gencar aja dulu, cari duit dulu, setor dulu duit, soal nanti kita bikin kegiatan apa di sana, karena itu masjid umat Islam internasional,” ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Commitment Letter oleh lembaga-lembaga yang ingin berpartisipasi. Melalui komitmen tersebut, lembaga-lembaga yang terlibat diharapkan dapat berperan aktif bersama-sama dalam menyukseskan pembangunan Masjid Al Muttaqin dan Islamic Cultural Center, baik melalui upaya penggalangan dana dari masyarakat maupun dengan membantu mempromosikan dan mensosialisasikan program tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
“Ini adalah satu project peradaban yang Insya Allah kami siap untuk menyambut ya untuk mendukung untuk berkolaborasi untuk bangunan masjid ini Insya Allah YAKESMA akan segera untuk melakukan komunikasi koordinasi menguatkan tim untuk mensupport aspek fundraising sehingga pembangunan masjid jiba ini bisa terwujud dan bisa menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia,” kata Romdlon Hidayat, CEO YAKESMA.
Di tempat yang sama, Rayan Asa Luminaries, Direktur Wakaf Al Azhar sekaligus Ketua Forum Wakaf Produktif, mengattakan, “Kami dari Yayasan Pesantren Al Azhar khususnya lembaga Al Azhar mendukung penuh kegiatan program pembangunan masjid Al Muttaqin Cultural Center di Jepang dan kami akan mengajak murid-murid akan mengajak keluarga besar pesantren Al Azhar, Yayasan Pesantren Al Azhar untuk bahu-membahu membantu program ini kita dukung program ini agar segera terwujud dan masyarakat Muslim di Jepang di chiba bisa segera memanfaatkan sehingga dakwah Islam cahaya Islam bisa bersinar lebih terang lagi di negeri sakura.” [Sumber: Dompet Dhuafa)





