Muallafpreneur, Program untuk Bantu Muallaf Terbebas dari Tekanan Ekonomi

41
ddhk
Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa programkan Muallafpreneur untuk bantu para muallaf binaan keluar dari tekanan ekonomi.

DDHK.ORG — Pimpinan Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro, Ustadz Fajar Shofari Nugraha, mengatakan faktor tekanan ekonomi yang dialami para muallaf menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam membina para muallaf. Sebab, dengan kondisi tersebut mereka menjadi sangat sensitif dan mudah tersulut emosinya.

“Untuk itu, Pesantren memiliki program Muallafpreneur, yakni sebuah program pendampingan bakat dan minat usaha para muallaf. Salah satunya, melalui pembukaan Kedai Muallaf Sektor 9 di lingkungan Pesantren Muallaf Bintaro. Mereka yang kelola, kami memberikan pendampingan usaha,” kata Ustadz Fajar.

Meski begitu, setiap hari Pesantren memberikan dukungan finansial buat para muallaf yang membutuhkan. Baik untuk kebutuhan dana pendidikan, atau untuk kebutuhan ekonomi.

Selain itu, para muallaf yang memiliki ketrampilan tertentu juga dihubungkan dengan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa yang berlokasi di Karawaci, Tangerang, Banten. Institut Kemandirian sendiri mengasah ketrampilan peserta, mencakup mekanik, teknisi HP, tata boga, tata busana, dan ketrampilan lainnya.

Salah satu yang sudah dihubungkan, seorang muallaf bernama Abdullah. “Beliau mantan chef (juru masak) di Hotel JW Marriot dan Hotel Sahid, menjadi guru di sana,” ujar Ustadz Fajar.

Ustadz Husnul Muttaqin, Pembina harian Muallaf di Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro, menjelaskan, masalah himpitan ekonomi terkadang muncul sebagai dampak dari perlakuan keluarga mereka, setelah memeluk agama Islam. Sebab, menurut analisa pengurus Pesantren, selama ini mayoritas para muallaf diuji iman mereka.

“Itu pasti! Ada saja jalan ujiannya,” ujar Ustadz Husnul.

Rata-rata, ujian ini sudah menjadi “sunnatullah”, karena saking seringnya. Yaitu, begitu mereka berpindah agama, keluarga memutus hubungan total. Harta yang ada diambil. Bahkan, mereka berusaha agar para muallaf ini tidak memiliki identitas sama sekali, supaya tidak bisa hidup. Kalau ada KTP, jika memungkinkan dibakar. Kartu Keluarga (KK) dan ijazah juga begitu.

“Mereka diserang secara psikologis. Itu bikin banyak dari mereka yang stres, tertekan. Salah satu dampaknya, mereka mengalami tekanan ekonomi juga,” ujarnya. [DDHK.ORG]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here