Dua aktivis kewarganegaraan Spanyol dan Brasil yang turut dalam pelayaran kemanusiaan internasional, Flotilla, menuju Gaza, Palestina, ditangkap aparat Israel. Sebelumnya, kapal kemanusiaan itu diintersep Israel dalam pelayaran menuju Gaza pekan ini. Dua aktivis itu yakni Saif Abu Keshek (Spanyol) dan Thiago Avila (Brasil).
Mengutip dari Anadolu, CNN Indonesia memberitakan, pemerintah Spanyol dan Brasil mengecam penculikan dua warga negara mereka oleh Israel. Dua negara itu menyebut warga negara mereka bersama kapal Flotilla itu berada di perairan internasional saat dicegat dan ditangkap Israel.
Dalam pernyataan bersama pada Jumat (1/5/2026), mereka menyebut aksi Israel sebagai tindakan ilegal yang dilakukan secara terang-terangan. Pemerintah Spanyol dan Brasil mengatakan kedua aktivis tersebut berada di atas kapal armada Sumud flotilla, yang dicegat pasukan Israel di perairan internasional. Kapal itu disita dan seluruh awak diturunkan di Pulau Kreta, Yunani, namun dua aktivis itu dibawa ke Israel.
“Tindakan ilegal yang terang-terangan oleh otoritas Israel di luar yurisdiksinya. Ini merupakan pelanggaran hukum internasional yang dapat diajukan ke pengadilan internasional, serta dapat diartikan sebagai tindak pidana menurut hukum nasional masing-masing negara kami,” demikian pernyataan bersama Spanyol dan Brasil.
Pemerintah negara di Eropa dan Amerika Selatan itu menuntut agar Israel segera memulangkan warga negara mereka masing-masing dengan jaminan keselamatan penuh. Mereka juga menuntut diberikan akses konsuler segera untuk bantuan dan perlindungan warga negara mereka tersebut.
Sebelumnya armada kapal pelayaran bantuan kemanusiaan Global Sumud flotilla dicegat Israel pada Kamis (30/4/2026) lalu di dekat Pulau Kreta, Yunani. Saat dicegat, kapal itu berjarak sekitar 600 mil laut dari tujuannya, yakni wilayah Gaza yang sedang diblokade sepihak oleh Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataan resmi menyebut pasukan telah membawa sekitar 175 aktivis dari sekitar 20 kapal yang berpartisipasi dalam armada ke Israel. Penculikan itu termasuk sejumlah warga Malaysia yang mengikuti misi kemanusiaan ini.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim murka dan mengecam aksi Israel. “Saya mengutuk tindakan keji rezim Zionis Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional,” kata Anwar di X.
Dia menekankan aksi Israel melanggar hukum laut dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Anwar juga meminta semua pihak bertindak secepat mungkin untuk memastikan keamanan warga Malaysia yang diculik. “Malaysia mendesak agar semua pihak bertindak segera dan memastikan tak ada kekerasan terhadap semua para aktivis, termasuk 10 rakyat Malaysia yang kini ditahan dan putus komunikasi,” ujar Anwar.
“Keselamatan mereka harus dijamin tanpa kompromi.”
Terkit hal itu, pemerintah Jerman dan Italia juga melayangkan teguran keras kepada Israel untuk menghormati hukum internasional dan menahan diri dari “tindakan tidak bertanggung jawab”. “Italia dan Jerman mengikuti dengan keprihatinan besar perkembangan terkait Global Sumud Flotilla, yang disita tadi malam di perairan internasional di lepas pantai Yunani,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dirilis Berlin dan Roma pada Kamis (30/4/2026), seperti dilansir Anadolu.
Dalam pernyataan tersebut, Jerman dan Italia mengingatkan Israel akan kewajibannya di bawah hukum internasional. “Kami menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum internasional yang berlaku dan menahan diri dari tindakan tidak bertanggung jawab,” bunyi pernyataan bersama Jerman dan Italia.
“Prioritas utama kami adalah menjamin keamanan warga negara kami, sejalan dengan hukum internasional kemanusiaan,” tegas pernyataan tersebut.
Jerman dan Italia juga menegaskan kembali dukungan mereka terhadap upaya komunitas internasional dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza sesuai dengan standar hukum yang berlaku.





