Dompet Dhuafa Dirikan 5 Pesantren Khusus untuk Bina Muallaf

65
ddhk
Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro berlokasi di Jl. Arteri Bintaro, Bintaro Jaya, Sektor 9, Pondok Pucung, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten.

DDHK.ORG — Dompet Dhuafa mendirikan 5 pesantren yang dikhususkan untuk membina para muallaf. Pesantren-pesantren Muallaf itu ada di Bintaro, Banten; Cianjur, Jawa Barat; Pekanbaru, Riau; Manado, Sulawesi Utara; dan Alor, Nusa Tenggara Timur.

“Alasan utama pendiriannya sederhana. Banyak lembaga kemuallafan, hanya melayani bimbingan ikrar syahadat. Tapi pembinaannya tidak intens dilakukan. Padahal, yang krusial adalah pembinaannya. Banyak sekali muallaf yang murtad dan kembali ke agama asalnya, karena tidak mendapatkan pembinaan,” kata Ustadz Fajar Shofari Nugraha, Mudir/Pimpinan Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro.

Sebagai contoh, saat ia datang ke Alor, ada seorang muallaf yang sudah bersyahadat sejak 20 tahun lalu, tapi belum bisa membaca Al-Qur’an dan shalatnya masih salah. Penyebabnya, tidak ada pembinaan yang diperoleh oleh muallaf tersebut.

“Nah, kami mencoba menjemput bola, bagaimana muallaf yang telah bersyahadat bisa kami bina. Mulai dari segi pendidikan, pendampingan ekonomi, hingga konsultasi masalah keluarganya,” ujar Ustadz Fajar.

Di Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa, para muallaf ada yang menginap dan ada yang tidak menginap. Yang disebut belakangan, biasa disebut intensif dan non-intensif, atau pembinaan mukim dan non-mukim.

“Kami mempunyai program pembinaan intensif 24 jam untuk yang mukim. Di sini kami mendampingi para muallaf dari bangun tidur hingga tidur lagi,” kata Ustadz Husnul Muttaqin, Pembina Muallaf di Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro.

Para muallaf diajari dasar-dasar Islam. Terutama, penguatan tauhid dan akidah, belajar shalat, serta belajar membaca Al-Qur’an.

Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa Bintaro sendiri diresmikan sejak tahun 2018. Pesantren ini membina 6 muallaf mukim. Sedangkan yang non-mukim mencapai 109 orang.

“Yang non-mukim, mereka tinggal di rumah masing-masing. Kami mempunyai kajian virtual online untuk mereka, 3 kali dalam seminggu. Ini karena ada wabah Covid-19. Sebelum ada wabah, kami punya program Tarbiyatul-Muallaf. Mereka dimukimkan 2 hari, Sabtu dan Ahad. Juga, layanan kesehatan tiap 2 bulan sekali, dan kajian bulanan yang rutin setiap bulan,” ujar Ustadz Husnul.

Pesantren ini digawangi oleh 5 orang. Selain, Ustadz Fajar dan Ustadz Husnul, ada juga Ustadz Aris Alwi (Penanggung Jawab Tim Respons), Fiorentina Karunia Sakti (Staf Administrasi & Keuangan, sekaligus sebagai Konsultan untuk Muallaf Perempuan), dan Yasir Mustarih (Office Boy).

Apa tugas utama Tim Respons? “Misalnya, jika ada muallaf yang dizalimi, kecelakaan, atau minta bantuan, Ustadz Aris sebagai penanggung jawab tim respons yang mendatangi. Saat ini beliau sedang di Mangga Dua, mengunjungi seorang muallaf yang sakit, karena beliau juga memiliki keahlian pengobatan,” tutur Ustadz Husnul.

Ustadz Fajar menyebut, masalah karakter dan usia yang beragam para muallaf menjadi tantangan utama yang dihadapi dalam mengelola Pesantren Muallaf. Dari segi usia, yang paling muda 21 tahun dan yang paling tua 60-an tahun.

“Belum lagi, ada faktor kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Mereka jadinya mudah tersulut emosi dan sangat sensitif,” ujarnya. [DDHK.ORG]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here