Pada hari Ahad (9/8/2026), Hong Kong mengalami hari terpanas sepanjang sejarah dengan suhu mencapai 36,9 derajat Celsius yang tercatat di Observatorium pada sore hari. Ini adalah angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 1884 silam.
“Sebelumnya, Observatorium mencatat suhu 36,7 derajat Celsius pada pukul 13.15, melampaui rekor sebelumnya sebesar 36,6 derajat Celsius yang tercatat pada tahun 2017 sebelum Topan Hato melanda kota tersebut,” tulis RTHK.
Di Sheung Shui, suhu mencapai 39,8 derajat Celsius, angka tertinggi yang pernah tercatat di kota itu sejak stasiun cuaca otomatis mulai digunakan pada tahun 1980-an. Banyak wilayah mencatat suhu 37 derajat Celsius atau lebih tinggi, dengan prakiraan cuaca memperingatkan bahwa suhu panas ekstrem ini kemungkinan akan bertahan selama beberapa hari ke depan hingga pertengahan pekan.
“Aliran udara turun di bagian luar Topan Kuat Dolphin membawa cuaca yang umumnya cerah namun sangat panas ke Guangdong,” demikian pernyataan Observatorium.
Di Mong Kok, baik warga setempat maupun pengunjung berbagi cara agar mereka tetap merasa sejuk.
Seorang warga lokal bernama Ashraf, yang sedang memegang minuman dingin, menekankan pentingnya bersikap bijak di bawah terik matahari—seperti menjaga hidrasi dan mencari tempat berteduh—namun ia menegaskan tidak akan membiarkan cuaca merusak akhir pekannya. “Saya besar di Hong Kong, jadi ini jelas lebih panas daripada yang pernah saya alami sebelumnya. Iklim telah berubah dan suhu pun meningkat,” ujarnya.
“Saya belum pernah merasakan panas seperti ini sebelumnya. Yah, setidaknya saat saya masih kecil, saya tidak ingat pernah sepanas ini,” kata Ashraf.
Bagi Tuti, seorang pekerja rumah tangga asing asal Indonesia, hari libur berarti harus memilih lokasi yang tepat. Ia menghabiskan hari itu di sebuah jembatan penyeberangan orang di Mong Kok, tertarik oleh atapnya yang memberikan perlindungan dari sengatan langsung sinar matahari.
“Tidak masalah. Kami menikmatinya karena di Indonesia cuacanya juga panas seperti ini, tetapi di Hong Kong suasananya lebih baik,” kata Tuti.
Seorang wisatawan asal Malaysia bernama Mok mengatakan bahwa rekor suhu panas ini tidak akan menggagalkan rencana liburannya. Ia dan teman-temannya berencana memindahkan aktivitas mereka ke dalam ruangan, namun ia mengakui bahwa tingkat kelembapan udara di sana cukup mengejutkannya. “Ini pengalaman yang agak baru bagi kami karena di Malaysia udaranya biasanya cukup sejuk, tetapi di sini, saya harus menjaga tubuh tetap terhidrasi,” ujarnya.
“Di Malaysia, meskipun suhunya mencapai 36 derajat, rasanya tidak seperti ini. Udaranya jauh lebih kering di sana. Di sini, saya harus masuk ke dalam ruangan,” ujar Mok.
Namun, tidak semua orang tampak terganggu. Seorang anak laki-laki, yang terlihat mengenakan sweater lengan panjang di tengah cuaca yang sangat panas, justru menanggapi hawa panas itu dengan santai sambil tersenyum lebar. Ia menjelaskan bahwa ia memilih pakaian tersebut demi gaya, bukan kenyamanan praktis, dan suhu udara sama sekali tidak mengganggunya. (Sumber: RTHK)




