Pemerintah Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) sengaja memicu berbagai perselisihan global untuk mengalihkan perhatian internasional dari konflik Israel-Palestina. Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam sebuah wawancara bersama saluran televisi RT India. Dia menyatakan bahwa rentetan ketegangan yang melibatkan Iran, Venezuela, Kuba, Greenland, hingga Kanada merupakan upaya terstruktur yang memalingkan mata dunia dari krisis di Timur Tengah.
Lavrov menilai, dinamika politik yang diprovokasi oleh AS saat ini membuat komunitas internasional kian menjauh dari solusi perdamaian bagi Palestina. “Semua masalah ini menjauhkan kita dari penyelesaian krisis yang paling berlarut-larut dan paling negatif di dunia, yaitu krisis di sekitar Palestina,” ujar Lavrov, sebagaimana dikutip Komas.com dari pemberitaan Middle East Monitor, Rabu (13/5/2026).
Lavrov juga melayangkan kritik tajam terhadap proposal yang diajukan AS mengenai masa depan Jalur Gaza. Menurutnya, rencana-rencana Washington sama sekali tidak menyentuh inti masalah, yaitu pendirian negara Palestina yang berdaulat.
Sang Menlu juga menyoroti bahwa ketegangan yang melibatkan Iran sengaja dirancang demi kepentingan geopolitik tertentu, termasuk merusak hubungan diplomatik di kawasan. “Saya tidak ragu bahwa ketika rencana untuk memicu agresi terhadap Iran sedang dirancang, salah satu tujuannya adalah untuk mencegah normalisasi hubungan antara Iran dan negara-negara Arab,” kata Lavrov.
Menurut dia, ada upaya sistematis agar rekonsiliasi di Timur Tengah tidak pernah terwujud. Lavrov memperingatkan bahwa negara-negara di kawasan Teluk saat ini sedang digiring ke dalam suatu tatanan baru yang mengorbankan hak-hak warga Palestina.
Rusia memperingatkan bahwa kegagalan dalam membentuk negara Palestina yang merdeka hanya akan memperpanjang masa depan kelam di Timur Tengah. Tanpa adanya solusi tersebut, ketidakstabilan serta radikalisme diprediksi akan terus membayangi kawasan hingga beberapa dekade mendatang.
Usai Palestina, Warga Isarel Inginkan Lebanon Selatan untuk Perluasan Wilayan Negaranya
Sejumlah kelompok sayap kanan dalam gerakan pemukim di Israel mulai mengembangkan gagasan perluasan permukiman hingga ke wilayah selatan Lebanon. Seorang aktivis bernama Anna Sloutskin di Tepi Barat, salah satu pendiri kelompok Uri Tzafon, menyatakan keinginannya tersebut.
Kelompok ini membayangkan perbatasan Israel diperluas hingga Sungai Litani di Lebanon, sekitar 30 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Hal itu sesuai dengan visi kelompok, yang menurut Sloutskin, mencakup perubahan batas wilayah Israel ke arah utara.
Sloutskin menjelaskan gagasan ekstrem kelompoknya dengan mengatakan, “Intinya adalah sebagian besar penduduk akan pergi, kami memindahkan perbatasan, dan kami tidak membiarkan mereka kembali, sehingga wilayah itu tetap menjadi bagian dari Negara Israel berdasarkan deklarasi,” ujarnya.





