ArtikelMigran Menulis

5 Kiat Interview dengan Calon Majikan

DDHK.ORG — Bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang baru saja finish kontrak kerja, di-terminate, atau memutus kontrak, proses mencari majikan baru terbilang gampang-gampang susah. Dan tentunya, semua berkeinginan mendapatkan majikan yang baik: diberi gaji lebih kalau bisa, diberi makan tiga kali sehari, diberikan libur tiap pekan, dan tidak ada CCTV di rumahnya. Buat yang Muslimah, pasti berharap dibolehkan shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, dan menggunakan jilbab.

Semua itu akan ditentukan dari proses wawancara atau interview dengan calon majikan. Berdasarkan pengalaman penulis, ada lima kiat yang dapat dilakukan, terutama oleh pekerja migran Indonesia yang beragama Islam, agar terkesan baik dan menarik perhatian calon majikan saat interview. Selain berpeluang dipilih majikan, juga supaya dibolehkan menggunakan jilbab dan menutup aurat saat kerja nanti.

Yang pertama dilakukan sebelum berangkat untuk interview, adalah berwudlu, serta membaca basmalah dan doa saat keluar rumah. “Berwudlu adalah menjaga kesucian. Rasulullah SAW selalu menjaga wudlunya. Jadi, termasuk sunnah mustahabbah (sunnah yang dianjurkan). Bahkan, dalam keadaan di dalam rumah pun Rasullullah SAW selalu menjaga wudlu,” kata pedakwah Ustadz Talqis Nurdianto dalam sebuah kesempatan memberikan tausiyah agama kepada pekerja migran Indonesia di Hong Kong.

Kiat pertama, pastikan pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang sopan, rapi, dan bersih.

Hal pertama yang dilihat calon majikan adalah penampilan kita. Maka, usahakan untuk tidak memakai pakaian terbuka, misalnya pakaian yang terlalu seksi, karena itu akan berpengaruh pada keseharian kita sewaktu kerja.

Jika kita menginginkan majikan legowo menerima ajaran syariat Islam, maka kita pun harus berusaha menampilkan pakaian terbaik kita sebagai seorang Muslimah di depan calon majikan saat interview, saat pandangan pertama. Secara langsung ataupun tidak langsung, kita sampaikan pertanyaan, bolehkah nanti ketika berkeja berpenampilan seperti itu. Jika calon majikan tidak suka, secara otomatis dia akan menjawab: “tidak”. Dan biasanya, kalau dia tidak mempermasalahkan penampilan kita, dia akan menjawab: “ya”.

“Sebenarnya, semua agensi membolehkan pekerja migran untuk memakai penutup kepala saat interview. Tapi kadang, setiap majikan beda-beda. Ada yang suka, ada yang tidak. Tapi kalau majikan sudah suka dan butuh banget pembantu, bagi dia tidak jadi masalah, yang penting bisa kerja. Hal itu bisa ditanyakan langsung saat interview,” kata Yolanda, Customer Service Assistant kantor agensi Overseas Employment Centre (OEC) Tsuen Wan.

Kiat kedua, pasang senyum serta perkenalkan diri dengan antusias dan penuh semangat.

Hal yang harus dan penting dilakukuan adalah senyum. Selain senyum itu ibadah dan sedekah yang paling mudah, tentunya senyum menjadi awalan yang baik untuk memulai percakapan dengan calon majikan.

Walaupun misalnya kita memiliki wajah yang “pas-pasan”, dengan tersenyum akan menghadirkan banyak kesan baik di mata calon majikan. Terutama, untuk pekerjaan menjaga lansia atau menjaga anak.

Setelah itu, biasanya calon majikan akan mempersilakan kita untuk memperkenalkan diri. Ada juga yang bertanya langsung, mulai dari nama, jumlah anak, hingga pengalaman kerja sebelumnya.

Gunakan bahasa Inggris atau Kantonis yang baik, dengan suara yang tegas dan lugas. Tetap pasang senyum dan duduk tegap tapi sopan sepanjang interview.

Kiat ketiga, ceritakan pengalaman kerja kita sebelumnya ke calon majikan baru.

Menceritakan pengalaman kerja sebelumnya adalah hal baik untuk dilakukan. Misalnya, pekerjaaan kita sebelumnya adalah menjaga tiga lansia dan seorang siuce. Diantara lansia tersebut, satu menggunakan kursi roda dan dua lainnya masih bisa berjalan tetapi sakit-sakitan. Juga, pengalaman memandikan nenek, membantu memakaikan pampers, bersih-bersih rumah, tidak masak, tidak belanja, dan liburnya pada hari Rabu.

Ceritakan apa adanya secara jujur. Jangan ditambahi, ataupun dikurangi.

Hal terpenting yang harus diingat, jangan sekali-kali menceritakan keburukan dan kejelekan bekas majikan saat interview. Selain membuang waktu, hal tersebut akan memberikan kesan negatif bagi calon majikan terhadap karakter kepribadian kita yang berani membuka aib bekas majikan.

Kiat keempat, ceritakan keterampilan lainnya yang kita miliki.

Misalnya, kita pernah bekerja di Taiwan dan jago masak masakan China. Atau, kita pintar memijat. Nah, semua itu tentunya akan menjadi nilai tambah buat kita.

Kiat kelima, jika ada pertanyaan yang ingin disampaikan, tanyakan langsung dengan ramah dan sopan santun, usai majikan meng-interview.

Biasanya, setelah interview selesai, majikan mempersilakan kita untuk bertanya. Jika tidak diminta bertanya, kita bisa meminta waktu sebentar untuk bertanya tentang poin-poin penting. Misalnya, bolehkah kita beribadah shalat. Jelaskan, bahwa itu kita lakukan,  misalnya, hanya 5 menit dan setelah itu bisa melanjutkan kerja. Contoh lain, apakah kita mempunyai kamar sendiri.

Sebenarnya, masih banyak kiat lain. Lima kiat ini hanya sebagiannya saja. Setelah kita berikhtiar, apapun hasilnya hanya Allah Ta’ala yang menentukan. [Nurhalimah/DDHK News]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×