Terjerat Utang dan Penipuan
Tujuan utama merantau untuk bekerja di Hong Kong tentu untuk memperbaiki kondisi keuangan. Apa jadinya jika ingin menyelesaikan masalah keuangan, tetapi justru terjerat masalah keuangan? Itulah kenyataannya.
Pertama adalah masalah utang. Jika dilihat dari gaji, standar di Hong Kong relatif tinggi, sekitar Rp10 juta per bulan. Akan tetapi, keinginan untuk memenuhi kebutuhan secara cepat, ditunjang dengan kemudahan pengajuan pinjaman di Hong Kong, membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk berutang.
Ironisnya, utang pertama sering kali digunakan untuk menutup utang sebelumnya. Lama-kelamaan mereka terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus.
Ada pula yang sampai menggadaikan paspor kepada pihak pemberi pinjaman sebagai bentuk jaminan. Akibatnya, ketika gagal membayar, mereka kehilangan kendali atas dokumen pentingnya sendiri.
Kedua adalah masalah penipuan. Saya pernah menemui seorang PMI yang tinggal di Shelter DDHK dan hampir selalu kehabisan uang. Padahal, baru sehari sebelumnya ia menerima bantuan uang tunai dari DDHK. Setelah kami telusuri, ternyata setiap kali menerima uang, ia langsung mentransfernya kepada seseorang yang mengaku sebagai pacarnya di Indonesia. Mereka berkenalan melalui Facebook. Tanpa disadari, ia menjadi korban love scam yang memanfaatkan perasaan untuk menguras harta korbannya.
Kasus lain juga tidak kalah memprihatinkan. Ada yang bercerita kehilangan lebih dari Rp100 juta karena tergiur investasi dengan iming-iming keuntungan besar. Ada pula yang menjadi korban penipuan digital karena belum memahami penggunaan mobile banking. Dengan berbagai modus, pelaku mengarahkan korban untuk melakukan transfer ke nomor virtual account yang ternyata merupakan rekening milik penipu. Dalam hitungan menit, hasil kerja keras bertahun-tahun bisa lenyap begitu saja.
Di era digital, ancaman bagi pekerja migran bukan hanya datang dari pekerjaan yang berat, tetapi juga dari layar telepon genggam yang setiap hari mereka genggam. Kurangnya literasi digital dan literasi keuangan dapat membuat siapa saja kehilangan uang hasil jerih payahnya dalam sekejap.
Yang menyedihkan, mereka bukan kehilangan uang karena malas bekerja, melainkan kehilangan hasil kerja keras bertahun-tahun hanya karena percaya kepada orang yang salah.
Jalan Buntu yang Dipilih Sebagian Orang
Kondisi psikologis yang tertekan sering kali membuat orang gelap mata dan mengambil jalan pintas. Ada yang kabur dari majikan karena tidak sanggup menghadapi tekanan. Ada yang memilih untuk overstay dan akhirnya mengajukan suaka kepada pemerintah Hong Kong, yang lebih populer dikenal sebagai paper. Sampai pada titik terendah, ada yang nekat bunuh diri.
Saya pernah bersama relawan DDHK menolong seorang PMI yang hendak melompat dari jembatan. Ia berdiri di pinggir jembatan. Tatapannya kosong. Ketika diajak bicara, jawabannya melantur dan tertawa sendiri. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya tatapan seorang perempuan yang seperti sudah kehilangan harapan. Saat itu saya sadar, tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada beban hidup yang begitu berat hingga seseorang merasa kematian adalah jalan keluar.
Tekanan Sosial Saat Pulang Kampung
Setiap pekerja migran di Hong Kong memiliki hak cuti apabila sudah memenuhi kriteria tertentu yang dapat digunakan untuk pulang ke kampung halamannya. Pulang kampung yang seharusnya menjadi momen bahagia justru dapat menjadi beban. Tak jarang, biaya pulang kampung menghabiskan tabungan yang telah dikumpulkan selama berbulan-bulan.
Mengapa demikian? Karena mereka harus memikirkan oleh-oleh untuk keluarga, kerabat, dan juga tetangga. Belum lagi ketika berada di rumah, mereka merasa perlu memberikan angpau kepada sanak saudara. Ada pula yang memiliki tradisi mentraktir kanan dan kiri karena anggapan bahwa orang yang bekerja di Hong Kong pasti memiliki banyak uang. Yang lebih ironis, orang-orang di kampung bahkan dapat menghitung jumlah tabungan pekerja migran di Hong Kong berdasarkan besaran gaji standar yang diterima.
Media Sosial Hanya Menampilkan Etalase
Yang terlihat di media sosial sebagian besar adalah momen kebahagiaan dan keindahan Hong Kong. Orang yang melihatnya berpikir bahwa PMI yang bekerja di Hong Kong hidup penuh kesenangan dan bergelimang harta. Padahal, di balik keceriaan yang tampil di media sosial ada perjuangan luar biasa, ada tangisan, ada keringat, ada lelah fisik dan batin, ada tekanan, serta ada pengorbanan.
Oleh karena itu, bagi keluarga di tanah air, jangan terlalu banyak menuntut. Mereka pada dasarnya juga ingin pulang dan hidup bersama keluarga di Indonesia. Untuk para suami yang istrinya bekerja di luar negeri, bekerjasamalah dengan baik. Siapkan pekerjaan atau usaha di Indonesia. Kelola dengan baik uang yang dihasilkan di Hong Kong agar menjadi produktif.
Hong Kong Memberi Harapan, tetapi Juga Pengorbanan
Hong Kong memang memberi kesempatan untuk memperbaiki ekonomi. Banyak pekerja migran yang berhasil membangun rumah, menyekolahkan anak hingga lulus sarjana, bahkan membuka usaha setelah pulang. Namun, keberhasilan itu hampir selalu dibayar dengan pengorbanan.
Jadi, jika suatu hari Anda melihat foto seorang pekerja migran sedang tersenyum di Victoria Harbour, jangan buru-buru iri.
Bisa jadi senyum itu adalah satu-satunya waktu dalam sepekan ketika ia bisa melupakan penatnya bekerja.
Bisa jadi pakaian yang dikenakannya dibeli setelah berbulan-bulan menahan diri untuk tidak berbelanja.
Bisa jadi setelah foto itu diambil, ia kembali ke rumah majikan dan melanjutkan pekerjaan hingga larut malam.
Foto profil memang menampilkan senyum. Namun, kehidupan sering kali menyembunyikan air mata. Yang tampak indah sering kali hanyalah latar belakang fotonya, bukan kehidupan orang yang berdiri di depannya.




