Hong Kong tidak seindah foto profil, Pak.”
Kalimat itu diucapkan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) ketika saya berbincang di Shelter Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK). Kalimat sederhana, tetapi membuat saya terdiam. Selama ini orang hanya melihat foto-foto indah Hong Kong di media sosial. Padahal, di balik foto itu ada cerita yang tidak semua orang tahu.
Namun, sebelumnya perlu saya tegaskan bahwa cerita ini tidak menggambarkan seluruh kehidupan mereka. Ada yang beruntung dan sukses, ada pula yang sebaliknya.
Foto Profil vs. Kehidupan Nyata
Setiap pekan, seorang employer (majikan) wajib memberikan satu hari libur kepada pekerja migran. Sebagian besar pekerja migran menikmati hari libur pada hari Ahad, disusul hari Sabtu, sedangkan sisanya memperoleh libur pada hari kerja. Itulah satu-satunya hari dalam sepekan ketika mereka benar-benar memiliki waktu untuk diri sendiri.
Hari libur inilah yang digunakan para pekerja migran untuk melepas lelah dengan berjalan-jalan ke tempat wisata, kuliner, bersantai di taman, ataupun melakukan kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya. Lalu, linimasa media sosial dipenuhi foto-foto indah nan memukau, dengan pakaian kekinian dan gaya yang tidak ketinggalan zaman.
Senyum dan keceriaan yang ditampilkan di foto sering kali membuat orang di kampung berpikir, “Kerja di Hong Kong enak, ya. Banyak uang, bisa jalan-jalan.” Banyak orang mengira hidup PMI di Hong Kong selalu bahagia dan bergelimang harta.
Padahal, foto hanya menangkap momen sesaat, bukan menggambarkan keseluruhan kehidupan.
Di Balik Senyum Ada Perjuangan
Bekerja di sektor rumah tangga bukanlah pekerjaan yang ringan. Tinggal bersama keluarga asing yang berbeda kebiasaan, berbeda budaya, bahkan berbeda agama membutuhkan mental dan ketahanan emosional yang kuat.
Tak sedikit pekerja migran yang harus bangun sebelum Subuh dan baru bisa tidur ketika seluruh anggota keluarga majikan telah terlelap. Pekerjaan rumah tangga seolah tak pernah selesai. Waktu makan sering mundur, waktu istirahat pun kerap terpotong. Apalagi jika mereka mendapatkan majikan yang ma fan (麻煩)—istilah Kanton yang berarti “merepotkan” atau “terlalu banyak menuntut”. Hampir setiap hari ada saja yang dianggap kurang, sehingga hidup dijalani dalam tekanan dan rasa cemas melakukan kesalahan.
Bertahun-tahun mereka harus menahan rindu kepada anak, orang tua, dan pasangan. Ada pula yang tetap harus bekerja saat sakit karena takut kehilangan pekerjaan.
Tulang Rusuk yang Terpaksa Menjadi Tulang Punggung
Suami adalah tulang punggung keluarga. Namun, dalam konteks ini, istri yang seharusnya menjadi tulang rusuk terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena keadaan. Mereka yang sejatinya menemani tumbuh kembang anak-anak dan melayani suaminya kini harus pergi ke negeri orang untuk bekerja mencari nafkah. Pola pikir mereka pun berubah menjadi pengambil peran dan tanggung jawab dalam memenuhi segala kebutuhan keluarga.
Mereka bukan pergi karena ingin meninggalkan keluarga, melainkan karena ingin menyelamatkan keluarganya. Namun, sehebat apa pun mereka, perempuan tetaplah perempuan. Ada saat-saat ketika mereka ingin berhenti menjadi kuat dan memiliki bahu untuk bersandar.
Saya masih ingat ketika seorang PMI melempar candaan, “Bapak angkat meja begitu saja sudah tidak kuat. Saya sudah biasa mengangkat yang lebih berat dari itu.”
Kami sama-sama tertawa. Namun, di balik candaan itu tersimpan sebuah kenyataan bahwa menjadi pekerja migran bukan hanya menguras emosi, tetapi juga tenaga. Banyak dari mereka yang setiap hari harus mengerjakan pekerjaan fisik yang berat. Secara fisik, mereka dituntut memiliki tenaga yang tidak kalah kuat dari laki-laki.
Ujian Keimanan dan Kehidupan Pribadi
Bagi yang muslim, ibadah juga menjadi tantangan tersendiri. Saat saya mengunjungi komunitas majelis taklim, sering muncul curahan hati tentang kesulitan menjalankan salat karena majikan tidak memberikan waktu atau tempat yang memadai. Alhasil, ada yang terpaksa salat di kamar mandi karena itulah satu-satunya tempat yang tidak terpantau CCTV.
Lain halnya dengan puasa. Bagi sebagian majikan, berpuasa di tengah musim panas dianggap berbahaya. Mereka khawatir pekerja migran akan kelelahan, jatuh sakit, bahkan tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Maklum, pada musim panas durasi puasa lebih panjang dengan suhu udara yang bisa sangat menyengat. Karena itulah, ada majikan yang pernah berkata, “God won’t be angry if you drink just a little,” atau “Tuhanmu tidak akan marah kalau kamu minum sedikit saja.”
Urusan makanan halal juga menjadi persoalan. Babi sudah menjadi makanan sehari-hari. Bukan hanya daging babi, produk turunannya pun banyak, seperti minyak, penyedap rasa, dan lain sebagainya. Menjaga agar tetap mengonsumsi makanan halal ketika tinggal di rumah majikan menjadi tantangan tersendiri.
Ada juga yang pernah menemui saya dalam kondisi hamil akibat hubungan dengan majikannya. Saat mendengar kisahnya, saya menyadari bahwa menjadi pekerja migran bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga menghadapi berbagai ujian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tinggal bertahun-tahun di rumah orang asing dapat menempatkan seorang perempuan pada posisi yang rentan. Dalam beberapa kasus terjadi pelecehan seksual, dalam kasus lain muncul relasi yang tidak semestinya. Apa pun penyebabnya, perempuanlah yang sering kali menanggung beban paling berat, terlebih ketika semua itu terjadi di negeri orang.




