ArtikelHikmah

Ini Amalan di Malam-Malam Akhir Ramadhan

DDHK.ORG — Bulan Ramadhan bermakna bulan pembakaran. Apa yang harus dibakar? Yang Allah minta adalah:

  1. Pembakaran dosa-dosa. Begitu selesai Ramadhan, akan mendapatkan apresiasi dan doa dari saudara-saudara kita, yaitu “minal ‘aidin”.
  2. Pembakaran jiwa. Jiwa kita yang keras, hati kita yang seperti batu, dibakar dengan cara nafsu kita oleh Allah dipaksa untuk melakukan banyak amal yang wajib dan sunnah. Di siang hari, nafsu lapar dan nafsu makan kita harus dilatih dengan menahannya melalui puasa. Waktu malam, nafsu tidur kita dilatih dengan melek untuk melaksanakan shalat Tarawih. Waktu sahur, menjadi waktu yang barokah. Sedang tidak nafsu makan, disuruh makan. Sebaliknya, sedang nafsu-nafsunya makan dan minum di siang hari justru disuruh menahan diri.

Tujuan pembakaran ini agar hati kita lunak, hati kita mudah dibentuk. Dan, bentuk yang diinginkan adalah “la’allakum tattaqun”, bentuk orang yang bertakwa.

Orang yang bertakwa, di QS Al-Hujurat: 13, disebutkan sebagai bentuk paling mulia: “inna akramakum ‘indallahi atqokum.”

Kalau kita sudah melunakkan hati dan jiwa kita dengan amalan-amalan di bulan Ramadhan, kita berharap di akhir Ramadhan nanti orang-orang akan memberikan apresiasi dan doa, setelah “minal a’idin” dilengkapi dengan “wal faizin”. Jadi lengkapnya, “ja’alallahu lakum minal aidina wal faizin”: semoga Allah menjadikan engkau orang yang kembali suci, tanpa dosa, tanpa nista, dan juga menjadi pemenang karena engkau meraih ketakwaan.

Kalau kita memahami ini, maka di akhir Ramadhan ini kita akan berjuang, karena kita sedang berada di babak final untuk meraih derajat ketakwaan dan kemuliaan, agar dosa-dosa kita diampuni Allah Ta’ala, agar derajat kita dimuliakan oleh Allah.

Sedangkan bulan Syawwal adalah bulan pengangkatan. Ini ada hubungannya dengan Ramadhan. Setelah ringan tanpa dosa, maka derajat kita akan diangkat oleh Allah Ta’ala.

[darsitek number=3 tag=”artikel”]

Dahsyatnya Waktu Akhir

Jangan kita meremehkan detik-detik terakhir sebelum Ramadhan meninggalkan kita. Rasulullah menyampaikan tentang dahsyatnya waktu-waktu akhir. Diantaranya:

  1. Penentu amal kita.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

 

Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, namun berakhir menjadi penghuni surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka, dan sesungguhnya amalan itu ditentukan pada penutupannya.” (HR. Bukhari: 6117)

Hidup seseorang akan su-ul khotimah atau husnul khotimah tergantung dengan amal yang dia pilih di akhir hidupnya. Jadi, selama kita masih memiliki kesempatan hidup, berartio Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk meraih husnul khotimah.

Maka para salafus sholih sering memanjatkan doa pamungkas berikut ini:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

Allahummaj’al khayra ‘umri akhirahu, wakhaira ‘amali khawatimahu, wa khaira ayyami yauma al-qaka.

“(Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat).”

  1. Kunci surga.

من كان آخرُ كلامهِ لا إلهَ إلَّا اللهُ دخل الجنَّةَ

“Siapa yang di akhir hayatnya bisa mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), maka ia masuk surga.” (HR Abu Daud).

Allah juga mengingatkan (QS 23:99-100), agar di akhir hayat jangan sampai kita tergolong orang yang harus mengalami negosiasi penyesalan.

حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”

[darsitek number=3 tag=”hikmah”]

Begitu juga di QS 63:10-11, Allah mengingatkan:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Maka mari kita jadikan akhir Ramadhan ini sebagai babak final kompetisi untuk menjadi yang terbaik. Dan kompetisi ini, agar dosa-dosa kita digugurkan, agar jadi mulia, dan bukan hanya diri kita tapi juga anak keturunan kita, Allah sediakan momennya. Yaitu, Lailatul Qadar.

Ketika Allah memilih nama Al-Qadar, tujuanya bukan hanya untuk menyemangati kita untuk berlomba-lomba berbuat baik, tapi juga pada hakikatnya kita butuh lailatul qadar. Lalu, apa itu lailatul qadar?

Salah satunya, karena malam ini bermakna “lailatut taqdir”, malam penentu takdir manusia dalam setahun. Kita tau sendiri, kita sering banget berkata-kata yang akhirnya bisa mendatangkan nasib buruk, bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi orang-orang yang kita cintai. Dan, kita ingin menghapus itu semua. salah satu momennya, Allah beri kesempatan di malam Lailatul Qadar.

 

Amalan di Malam-Malam Akhir Ramadhan

Maka mari kita barengi ibadah kita di malam-malam akhir Ramadhan ini dengan berdoa untuk menghapus nasib buruk kita dan juga nasib buruk semua keturunan kita. Sebab, pada malam Lailatul Qadar, para malaikat akan mengaminkan doa-doa kita.

Lalu, apa saja amalan yang harus kita lakukan di malam-malam akhir Ramadhan?

Pertama, dekatkan diri dan perbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Karena malam Lailatul Qadar menjadi mulia karena Al-Qur’an, maka yang kita dekati dan ambil kuncinya adalah Al-Qur’an.

Bukan hanya itu, Al-Qur’an bahkan merupakan penyebab semua kemuliaan. Yakni:

  1. Bulan diturunkannya menjadi pimpinan bulan.
  2. Hari diturunkannya lebih baik dari 1000 bulan, setara 83 tahun.
  3. Malaikat yang bertugas membawanya menjadi pimpinan malaikat, yaitu Jibril.
  4. Nabi yang menerima sebagai nabi penutup. Meskipun terakhir, namun sebagai sebaik-baiknya nabi.
  5. Umat yang menjalaninya menjadi umat terbaik. Apapun yang diperintahkan dan dilarang Al-Qur’an penuhi, niscaya kita menjadi umat terbaik.
  6. Menjadi kitab suci yang sempurna dan paripurna.

Maka dari itu, mari kita dekatkan diri dengan Al-Qur’an di malam-malam terakhir Ramadhan. Apalagi, Ramadhan merupakan bulan turunnya surat cinta Allah kepada para rasul pilihan-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Suhuf (lembaran) Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada awal malam Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil pada 13 Ramadhan. Al- Furqan pada hari ke-24 Ramadhan.” (HR Ahmad)

Al-Qur’an juga akan menjadi “kartu pass” untuk kita bisa meraih surga tertinggi kelak. Kelak, akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an; bacalah dan naiklah, kemudian bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya ketika di dunia, karena sesunguhnya tempatmu ada pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR Tirmidzi)

Pada hari Kiamat, Al-Qur’an akan datang kemudian berkata, “Wahai Rabb berilah dia pakaian,” maka dipakaikanlah kepadanya mahkota kemuliaan, kemudian Al-Qur’an berkata lagi, “Wahai Rabb, tambhakanlah kepadanya,” maka dipakaikan kepadanya pakaian kemuliaan, kemudian berkata lagi, “wahai Rabb ridhailah dia,” akhirnya dia pun diridhai, kemudian dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah, niscaya akan ditambahkan kepadamu satu pahala kebaikan pada setiap ayat.” (HR Tirmidzi)

Berkat Al-Qur’an, kelak kita bisa menyematkan mahkota untuk orang tua. Namun ada syaratnya.

Nabi saw bersabda, “dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an, lalu dia melengkapinya dan mengamalkannya maka pada hari kiamat dia memasang sebuah mahkota untuk kedua orang tuanya yang lebih baik dari cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Kalau demikian, bagaimana tangapan kalian mengenai yang mengamalkannya?” (HR Ahmad)

Allah itu Maha Agung dan Maha Mulia. Sangat tidak pantas kita disandingkan dengan Allah ta’ala. Tapi Allah memberikan keistimewaan bagi orang yang mau berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Nabi saw bersabda, “Allah Ta’ala memiliki keluarga dari kalangan manusia. Sesungguhnya orang yang menguasai Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan manusia keistimewaan-Nya.” (HR Ahmad)

Berkat Al-Qur’an, terpenuhi segala hajat terbaik kita. Nabi bersabda, “Rabb ‘Azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa disibukkan oleh Al-Qur’an dan berdzikir kepada-Ku untuk memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon,” dan kelebihan kalamullah (Al-Qur’an) dari seluruh kalam adalah seperti kelebihan Allah dari seluruh makhluk-Nya.” (HR Tirmidzi)

Kita juga harus tau, ada 3 surat yang diawali “Qul” di Al-Qur’an yang tidak boleh dilupakan. Rasulullah saw menemuiku, memulai dalam beruluk salam dan meraih tanganku, beliau lalu bersabda, “wahai Uqbah bin Amir, maukah kamu aku ajari kebajikan dari 3 surat yang telah diturunkan dalam taurat, Injil, Zabur, dan Al Furqan Al Azhim?” Uqbah berkata, “saya menjawab, “Tentu! Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” Uqbah berkata, “Beliau kemudian membaca: ‘Qul Huwallahu Ahad’, Qul a’udzu birabbil falaq’, dan Qul a’udzu birobin naas,’ Setelah itu beliau bersabda, “Wahai Uqbah, janganlah kamu melupakannya dna janganlah kamu bermalam hingga kamu membacanya.” Uqbah berkata: Maka saya pun tidak melupakannya sejak beliau mengatakan, “Janganlah kamu melupakannya.” dan saya pun tidak pernah bermalam hingga aku membacanya. (HR Ahmad)

Kedua, jangan ada keributan di dalam keluarga, baik antara suami-istri maupun orang tua-anak.

Takwa dimulai dari ibadah personal dan diakhiri dengan ketahanan keluarga. Hal itu menjadi pesan Allah di ayat tentang Ramadhan.

Untuk itu mari kita tunjukkan kelas kita di hadapan Allah pada bulan Ramadhan ini. Kelas kita adalah kelas keluarga yang bertakwa. Caranya, kita tutup aib keluarga kita, kita wujudkan kehangatan di dalam keluarga kita.

Jangan sampai, terjadi keretakan dalam rumah tangga. Ada sebuah hadits yang mengabarkan bahwa gara-gara ada yang ribut di depan Rasulullah saw, akhirnya Allah cabut rizki kepada Rasulullah yang akan disampaikan kepada kita. Yaitu, informasi tentang waktu persis datangnya Lailatul Qadar. Rasulullah kemudian mengingatkan untuk menanti Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil Ramadhan dan spesifik di sepertiga malam terakhir.

Dari riwayat itu kita ambil pelajaran. Jangan sampai, kita ingin di malam-malam akhir Ramadhan kita ingin malaikat Jibril dan para malaikat mendoakan kita, memberikan keberkahan untuk keluarga kita, tapi akhirnya para malaikat malah berpaling dan enggan mengunjungi rumah kita. Kenapa? karena terjadi keributan di rumah kita.

Untuk itu, di momen-momen ini marilah kita tahan emosi, apapun yang terjadi. Stok maaf yang banyak. Juga, perbanyak istighfar. Insyaallah, dengan begitu Allah dan malaikat suka, lalu dilunakkan hati orang-orang yang kita cintai.

Ketiga, jaga kesucian, dengan menjaga wudlu. Allah sangat menyukai orang yang bersuci.

Keempat, duduk dalam keadaan bersiap menyambut kedatangan malaikat Jibril dan para malaikat. Kalau malaikat datang kita sedang berbaring atau tertidur, maka malaikat akan berpaling.

Kelima, Siapkan doa-doa yang selaras dengan doa para malaikat. Doa yang kita panjatkan bukan hanya untuk diri kita, namun juga untuk sleuruh anak keturunan kita.

Ini doanya:

Disampaikan oleh Ustadzah Nur Hamidah Lc., Mag., saat kajian online Halaqoh Selasa Ekspatriat Perempuan, 4 Mei 2021. [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×