Beginilah Al-Quran Memuliakan Wanita

28
Perempuan membaca Al-Quran (Foto: IStock)

Oleh: Ustadz Jauhar Ridloni Marzuq, Lc., MA.

Bagaimanakah Alquran memuliakan wanita? Dalam perjalanan sejarahnya, wamita telah dizalimi oleh banyak perabadan. Kedudukannya dipandang lebih rendah dari laki-laki, dijadikan sebagai kambing hitam kesalahan dan sumber kehinaan umat manusia, dianggap bukan bagian dari manusia atau setengah manusia, dan dirampas hak-haknya seperti untuk mendapatkan harta warisan, pendidikan yang layak, dan lain-sebagainya.

Ini terjadi bukan hanya pada peradaban di luar Arab, tapi terjadi juga pada masyarakat Arab sebelum Islam datang. Namun ketika Islam datang dengan Al-Quran sebagai kitab sucinya, kedudukan wanita dimuliakan sebagaimana mestinya.

Islam menetapkan karakteristik wanita sebagai makhluk yang dimuliakan bersama dengan lelaki, diberikan kedudukan yang terhormat, memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikulnya, baik di dalam maupun di luar rumah, sampai pada peluang-peluang yang diberikan Islam kepada wanita agar mampu berpartisipasi secara sungguh-sungguh dan bermanfaat di dalam masyarakat.

Pergeseran Kedudukan Wanita

Namun demikian, seiring dengan pergantian zaman dan perputaran waktu, kedudukan wanita mengalami sedikit pergeseran, hingga sampai ke tingkat yang paling rendah seperti yang terjadi pada permulaan abad keempat belas Hijriah.

Kemudian dengan bermulanya era penjajahan modern, terjadi pula benturan keras antara peradaban Barat dan masyarakat Islam yang menimbulkan berbagai dampak sampingan, antara lain ditandai dengan munculnya dua aliran yang kontradiktif dalam memandang kedudukan wanita.

Pertama, aliran yang terpengaruh dan silau dengan peradaban Barat, sehingga menerima saja bulat-bulat manis pahit dan baik buruknya peradaban tersebut.

Kedua, aliran yang menutup mata secara total untuk kemudian hanya mau mengikuti warisan yang ditinggal para leluhur mereka tanpa melihat manfaat dan ketidakmanfaatnya.

Alquran Hadir Memuliakan Wanita

Di tengah dari dua kutub ekstrem tersebut, Al-Quran hadir pada jalan pertengahan. Al-Quran memuat banyak sekali ayat yang mengangkat dan memposisikan wanita pada posisi semestinya. Kemuliaan perempuan yang diberikan oleh Al-Quran tersebut dapat dilihat dari beberapa hal:

Pertama, dalam Al-Quran khithab (redaksi ajakan atau seruan) dialamatkan kepada laki-laki dan wanita secara sama, mulai dari penetapan martabat manusia sampai pada tanggung jawabnya dalam masalah hukum pidana.

Memang ada beberapa aspek yang menyebutkan kekhususan laki-laki dan perempuan ditinjau dari tabiat dan naluri penciptaan mereka. Tapi pada asalnya, dasar hubugan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah persamaan. Perbedaan dalam beberapa sisi dianggap sebagai pengecualian karena itu sangatlah sedikit.

Karena itu, setiap upaya yang mengarah pada penghapusan hukum asal ini merupakan kekeliruan besar yang berlawanan dengan syariat Islam. Mengenai ketetapan persamaan antara laki-laki dan wanita, Imam Ibnu Rusyd berkata sebagai berikut: “Hukum asalnya laki-laki dan wanita itu sama, kecuali ada ketetapan tentang perbedaan yang sesuai dengan syariat.”

Bahkan kadang-kadang dalam satu redaksi ajakan atau seruan, laki-laki dan wanita disebutkan secara bersamaan. Hal itu merupakan karunia Allah sebagai penegasan tentang persamaan laki-laki dengan wanita.

Kedua, Al-Quran menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari asal yang sama.

Selama ini kita banyak terpengaruh dengan suatu pandangan yang mengatakan wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki atau Adam. Pemikiran seperti ini pada hakikatnya bersumber dari referensi-referensi Ahli kitab yang sering disebut dengan istilah israiliyyat.

Dalam Al-Quran, tidak pernah disebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Yang ada justru secara tersirat menunjukkan bahwa proses pencipatakan laki-laki dan perempuan itu sama.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa:

أَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu, dan darinya Allah mcnciptakan pasangannya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya yang kalian saling meminta satu sama lain, dan (pehharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kan…” (QS An-Nisa: 1).

Ayat ini menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari nafs yang satu. Apa arti nafs? Ada banyak penafsiran ulama dari kata Nafs. Tapi menurut penafsiran Syekh Muhammad Abduh, kata nafs di sini artinya adalah jenis atau bangsa sebagaimana firman Allah:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa/kaum/jenismu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah: 128).

Dari sini, maka pada hakikatnya ayat ini tidak menunjukkan bahwa perempuan diciptakan dari bagian tubuh laki-laki, baik tulang rusuk atau apapun. Yang ingin diangkat dari ayat ini adalah nikmat Allah kepada manusia, di mana Dia menciptakan pasangan (baik isti maupun suami) mereka bukan dari jenis lain, seperti malaikat atau jin, tapi diciptakan dari jenis manusia itu sendiri. Andaikan pasangan kita diciptakan dari bangsa jin atau malaikat, maka alangkah menderitanya kita menjalani hidup.

Tentang asal penciptaan wanita, ada beberapa ayat yang justru mneyebutkan secara tersirat bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaanya. “Dan nafs (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS Asy-Syams: 6). “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS Al-Lail: 1-4).

Lalu bagaimana dengan adanya hadits yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini, meskipun menggunakan kata min (dari) tapi maksud yang Rasul inginkan bukanlah untuk menunjukkan asal penciptaan perempuan, tapi untuk menggambarkan tabiat diri seorang perempuan. Kata min di sini lebih tepat diartikan “seperti”, bukan “dari”.

Makna kiasan dianggap lebih mampu menjelaskan tema hadits tersebut, sehingga dapat dipahami: perempuan diciptakan dari sifat-sifat seperti tulang rusuk—yang bengkok—dan tidak bisa diluruskan apalagi secara paksa. Pemahaman ini kiranya lebih mudah dipahami oleh nalar.

Ketiga, Al-Quran menyebutkan adanya hak dan tanggung jawab kemanusiaan yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Allah SWT berfirman: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya aku tidak menyianyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungaisungai di bawahnya sebagai pahala dari sisi Allah. Dan Allah pada sisiNya pahala yang baik.” (Ali Imran: 190-195).

Dari ayat ini kita dapatkan bahwa tanggungjawab, hak dan kewajiban antara laki-laki tidak ada perbedaan. Mereka sama-sama diwajibakan syariat-syariat tertentu, dan sama-sama akan mendaptkan pahala atau dosa atas amalannya.

Keempat, Al-Quran membersihkan kesalahan dari Hawa.

Ada satu pandangan popular yang mengatakan bahwa Nabi Adam dikeluarkan dari surga karena rayuan dari Hawa untuk memakan buah khuldi. Andai tidak ada Hawa manusia akan tetap tinggal di surga. Kaum hawalah yang membuat manusia harus diturunkan ke bumi, sehingga titik kesalahan dan dosanya ditimpakan kepada kaum Hawa.

Ketika kita membaca ayat-ayat Al-Quran, yang terjadi justru bukan demikian. Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa Hawa membujuk Adam untuk memakan buah khuldi. Yang ada, Adamlah yang langsung dibisiki dan dirayu oleh Iblis.

Maka Kami berkata: ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. ‘Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS Taha: 117).

Yang makan buah khuldi pun bukan hanya Hawa, tapi kedua-duanya (Adam dan Hawa): “’Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga.”

Tidak hanya di situ, setelah menyebutkan bahwa kesalahan diperbuat oleh kedua-duanya (Adam dan Hawa, bukan Adam saja atau Hawa saja), yang disalahkan oleh Allah ternyata hanya Adam saja. Hawa tidak dianggap berdosa atau bertanggungjawab atas kesalahan memakan buah khuldi tersebut.

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS Taha: 121).

Lihatlah, diujung ayat ini Allah hanya menyalahkan Adam dengan mengatakan “durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia” .  Allah tidak menimpakan kesalahan kepada Hawa. Ini memberi pelajaran kepada kita bahwa yang bertangungjawab atas kesalahan tersebut tetaplah Adam meskipun mereka berdua sama-sama makan, karena Adamlah pemimpinnya. Wallahua’lam.

Materi kajian ini telah disampaikan secara online oleh Ustadz Jauhar Ridloni Marzuq, Lc., MA. di acara Kajian Ekspatriat untuk ibu-ibu di Hong Kong, Selasa pekan lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here