Agar Hijrah Tidak ‘Gatot’

63
Ilustrasi (Foto: medium.com)

Oleh: Ustadz Talqis Nurdianto, Lc., MA.

Saat hijrah kita tidak ingin ‘gatot’ alias gagal total. Maka, ada baiknya melihat bagaimananya niatnya, siapa temannya, bagaimana lingkungannya, dan apa harapan untuk akhiratnya? Ini kebutuhan minimal yang penting untuk disiapkan agar hijrah tetap bersinar dan menjadi pelita bagi lainnya.

Pertama, kencangkan niat untuk berhijrah dan melakukan kebaikan.

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ . ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﻟِﺪُﻧْﻴَﺎ ﻳُﺼِﻴْﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻳَﻨْﻜِﺤُﻬَﺎ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau mendapatkan wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia inginkan itu.” (HR. Bukhari Muslim)

Ada apa dengan niat? Niat ini yang akan menentukan kualitas amalan seorang Muslim, apakah bernilai ibadah berbuah pahala atau sekedar agenda sosial kemanusiaan atau lainnya. Niat juga keinginan seseorang sebelum berbuat. Niat membedakan antara ibadah wajib dan sunah, juga membedakan antara satu ibadah sunah dengan sunah lainnya.

Boleh jadi amalan ukhrawi dengan niat duniawi, maka itu yang didapatkannya. Seperti, bersedekan adalah amalam ukhrawi. Karena niatnya ingin disebut dan dikenal namanya di komunitasnya, maka itulah yang dia dapatkan, berupa popularitas. Sedangkan pahala ukhrawi tidak diraihnya. Sebaliknya, amalan duniawi dengan niat ukhrawi berbuah pahala akhirat, seperti membantu mengangkat barang belanja ke atas motor dengan niat mendapat ridha Allah.

Niat ini bisa naik-turun. Naiknya, ketika merasa kuat hubungan pelaku dengan Allah dengan kebaikan yang dilakukan dan mengharap ridha Allah semata. Sedangkan turunnya, apabila godaan datang di tengah melaksanakan ibadah itu atau setelah selesai pada waktu yang sudah berlalu dalam bentuk riya (pamer).

Istilah tajdidunniyah (memperbaiki niat) maksudnya menjaga niat dari amal ibadah yang dilakukan agar tetap tertuju kepada Allah, sekalipun ada cobaan berupa pujian atau celaan dari makhluk terhadap yang dikerjakannya itu. Selama yang dikerjakan sesuai syariat Islam, maka niat ikhlas akan terus bersemayam dalam dirinya dan tidak goyang dengan kedua cobaan di atas.

Kedua, memiiki teman yang baik. Maksud baik di sini adalah teman tersebut bisa dijadikan panutan dalam kebaikan menurut syariat Islam. Teman juga bisa berwujud pasangan hidup halalnya, gurunya, ustadz, rekan kerja, sahabat, saudara, atau orang yang bersedia mengingatkan dalam kebaikan.

Para Nabi Allah pun memiliki teman yang baik, yang mendukung dakwahnya. Dikenal dengan para shahabat pada masa Nabi Muhammad SAW, hawariyyun pengikut Nabi Isa AS, dan juga Nabi Musa AS ada yang menemaninya dalam kebaikan, seperti dalam firman Allah SWT;

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَاناً فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءاً يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ

 “Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.”  (QS. Al-Qashash: 34).

Bagaimana Harun menjadi teman Nabi Musa dalam menghijrahkan Fir’aun dan para pengikutnya agar beriman kepada Allah dan meninggalkan kekufuran.

Teman yang baik itu bukan mereka yang senang saat Anda susah, dan susah saat Anda senang. Bagaimana mencari teman yang baik itu? Bisa dengan mendatangi majelis taklim untuk tholabul ilmi, datang ke masjid, atau datangilah tempat yang baik yang di dalamnya diisi oleh orang-orang baik agar kita dapat motivasi melakukan kebaikan juga. Rasulullah SAW mengingatkan kita dengan hadis di bawah ini;

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Sebagaimana dalam hadis riwayat dari Abu Hurairah;

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu sesuai dengan kadar agama dan akhlak teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.”

Ketiga, memperkuat ilmu tauhid dan mengamalkannya. Ilmu tauhid yang mempelajari keimanan kepada Allah dan meng-Esa-kan-Nya. Keimanan dibalut dengan amal shaleh, memacu diri untuk mempelajari dan mengamalkan perbuatan shalih itu. Amal shaleh ini menyempurnakan keimanan seorang Mukmin.

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Ilmu sudah dimiliki, teman sudah ada di samping, dan komunitas atau masyarakat yang baik sudah bersamanya, maka usaha untuk memperkuat hijrah seseorang lebih mudah jika dibandingkan berjuang sendirian.

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS. Ibrahim: 27).

Keempat, senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi keistiqamahan dalam hijrahnya. Niat baik hamba yang diwujudkan dalam perbuatan akan dikelilingi dengan cobaan yang menggoyangkan niat dan perilaku dalam kebaikan. Oleh karenanya doa akan membantu menguatkan ‘azam berhijrah di jalan Allah,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia)”. (QS. Ali Imran: 8).

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

 “Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim).

Doa adalah senjata Mukmin. Tidak ada yang bisa menggunakan senjata ini kecuali Mukmin. Oleh karenanya, selalu berdoa dan bermunajat kepada Allah adalah akhlak terpuji hamba kepada Rab-nya.

Kelima, memaksakan diri dalam kebaikan. Ada beberapa amalan yang perlu dijaga secara terus menerus. Semisal, berkomitmen untuk memakai jilbab ketika keluar rumah atau bertemu orang asing di rumah, menjaga wudhu dalam keseharian dan apabila batal maka segera wudhu.

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)

Semoga kita mendapatkan hidayah dalam melakukan kebaikan dan menghindari kemaksiatan sekalipun ada peluang. [Tq] [DDHK.ORG]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here