Beberapa kawasan hutan pegunungan di pulau Jawa dilanda kebakaran. Diantaranya, Bromo, Sumbing, Lawu, dan Arjuno-Welirang.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing, Jawa Tengah, telah mencapai sekitar 140 hektare. Api dilaporkan merambat hingga perbatasan Kabupaten Magelang dan mendekati wilayah Kabupaten Temanggung.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan penanganan kebakaran masih dilakukan melalui jalur darat dengan melibatkan sekitar 300 personel gabungan. “Yang jelas api merambat ke perbatasan Magelang dan mendekati perbatasan Temanggung,” kata Bergas saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (20/10/2026), sebagaimana dikutip Kompas.com.
Selain perambatan api, kebakaran di Gunung Sumbing juga terpantau melalui 53 titik panas. Data luasan lahan yang terdampak hingga kini mencapai 140 hektare.
Ia menyebutkan, karakteristik vegetasi di Gunung Sumbing turut memengaruhi kecepatan perambatan api. Berbeda dengan Gunung Lawu yang terbakar di kawasan pepohonan, kebakaran di Sumbing terjadi di area sabana yang lebih rentan terbakar ketika vegetasi mengering selama musim kemarau.
“Kalau yang di Lawu ini kan pohon-pohon, kalau yang Sumbing itu sabana. Kecepatan merambatnya lebih cepat yang sabana,” kata Bergas.
Di saat bersamaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar berupaya melakukan percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu dengan teknologi modifikasi cuaca. Berdasarkan data sementara, luasan area terdampak kebakaran yang berada di lereng Gunung Lawu wilayah Kabupaten Karanganyar semakin bertambah menjadi sekitar 490 hektar sejak ditemukannya titik api hingga hari keenam, Selasa (20/10/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Sugiharjo, menyampaikan bahwa penanganan dengan berbagai metode telah dilakukan oleh tim, mulai dari penyekatan hingga pemadaman udara (water bombing). Namun, penanganan kebakaran menggunakan water bombing belum berjalan maksimal karena terkendala kondisi cuaca.
“Karena terkendala cuaca, untuk water bombing yang rencananya empat sorti, baru dilaksanakan dua sorti karena cuaca ada mendung dan kabut,” katanya saat dihubungi, Selasa malam, dikutip Kompas.com.
Sugiharjo menuturkan, penanganan kebakaran di lereng gunung kemudian dilanjutkan secara manual oleh tim gabungan di beberapa posko. Akan tetapi, karena kondisi api cukup besar, personel terpaksa ditarik turun ke posko demi keselamatan. Selanjutnya, operasi water bombing akan tetap dilakukan sembari melihat perkembangan kondisi cuaca di lereng gunung.
Sugiharjo menambahkan, satu posko tambahan telah didirikan untuk mempercepat penanganan karhutla di Gunung Lawu, yakni Posko Candi Cetho di Kecamatan Jenawi. Semula, ada tiga posko yang telah aktif beroperasi, yaitu Posko Induk di Gondosuli Tawangmangu, Posko Cemoro Kandang Tawangmangu, dan Posko Tambak Ngargoyoso.
Karhutla di kawasan Gunung Arjuno-Welirang juga dilaporkan terus meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pada Selasa (20/10/2026), sebaran api terpantau mulai mengarah ke Kecamatan Trawas.
Dari pantauan di lapangan, kobaran api terlihat dari sejumlah desa di Kecamatan Trawas. Di Desa Ketapanrame, misalnya, nyala api tampak jelas pada malam hari.
Kepala UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengatakan, api yang sebelumnya membakar kawasan Gunung Arjuno di wilayah Kabupaten Pasuruan kini merembet ke sisi utara Gunung Welirang, yang mengarah ke wilayah Mojokerto. “Ini teman-teman Mojokerto sebagian juga sudah melakukan penanganan, pemantauan untuk wilayah Mojokerto,” ungkap Agustiningtyas Marini, Selasa (20/10/2026).
Menurut Agustiningtyas, area yang terbakar meliputi vegetasi ilalang, rumpun bambu, hingga semak belukar. Tim gabungan masih berupaya memadamkan api dan membuat sekat bakar untuk mencegah kebakaran meluas.
Sebagai langkah antisipasi, Tahura Raden Soerjo juga berencana menutup jalur pendakian Gunung Pundak di Kecamatan Pacet. Penutupan dilakukan demi keselamatan pendaki sekaligus memudahkan petugas menangani kebakaran di lapangan.
“Jadi sore ini yang pendakian Loka Wiyata Surya (LWS) akan kami tutup,” ujar Agustiningtyas Marini.
Ia mengakui, cuaca terik dan angin kencang menjadi kendala dalam upaya pemadaman. Petugas berupaya memadamkan api di area yang dapat dijangkau serta membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api.
“Sekat bakar sama penanganan yang bisa dijangkau kami lakukan pemadaman. Cuma kalau siang anginnya luar biasa, teman-teman tetap kami minta jaga kondisi, jaga keselamatan, jangan sampai terjebak api,” ujar Agustiningtyas Marini.
Diketahui, kebakaran hutan dan lahan ini diperkirakan bermula dari kawasan bawah Gunung Arjuno yang masuk wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang. Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Jumat (16/10/2026). Api kemudian meluas ke kawasan Gunung Welirang.
Sementara itu, karhutla di sekitar kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur, belum bisa dipadamkan sepenuhnya. Hingga Selasa (20/10/2026), masih tersisa satu titik api di Bukit Kedaluh.
Petugas gabungan menemukan dua titik api di sekitar Gunung Bromo. Dua titik api itu berada di sekitar Jurang Perau, Desa Wonokerto dan Bukit Kedaluh, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Plt. Kasi Humas Polres Probolinggo, Ipda Widy Purwa Apriantoro, mengatakan, titik api di Blok Jurang Perau mengakibatkan sejumlah pohon bambu tumbang dan menutupi jalur patroli petugas. “Petugas bersama warga berhasil memadamkan api dengan alat semprot dan megevakuasi pohon bambu yang roboh agar tidak menutupi jalan,” kata Widy di Probolinggo, Selasa (20/10/2026).
Sementara, titik api lain di Bukit Kedaluh saat ini belum bisa dipadamkan karena lokasi kebakaran berada di tebing yang tinggi dan tidak bisa diakses petugas. Saat ini, petugas hanya bisa melakukan pemantauan dan langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas.
“Upaya pemadaman secara langsung belum bisa dilakukan karena lokasinya di lereng tinggi dan curam,” ujarnya.



