Gelombang demonstrasi melanda 5 negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026) lalu. Aksi demo dipicu beragam persoalan, mulai dari tingginya biaya hidup, mahalnya perumahan, hingga buruknya layanan publik dan kualitas pendidikan.
“Demonstrasi di Perancis, Albania, dan Italia diwarnai bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi. Sementara itu, aksi protes juga berlangsung di Portugal dan Belgia,” demikian diberitakan Kompas.com.
Di Perancis, ratusan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup, memburuknya layanan publik, dan ketimpangan. Pemerintah melaporkan sedikitnya 1.200 orang ditangkap dan 150 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut.
Dikutip dari BBC, demonstrasi di Perancis disebabkan oleh kemarahan masyarakat terhadap kondisi sekolah dan tingginya biaya hidup. Aksi yang melibatkan ratusan ribu orang itu awalnya berlangsung relatif damai di Paris pada Sabtu siang.
Namun, situasi memburuk menjelang malam ketika sejumlah kelompok membakar kendaraan dan benda-benda di jalan, termasuk di Place de la Republique, salah satu lokasi ikonik di pusat ibu kota. Sejumlah toko dijarah dan sedikitnya satu restoran hangus terbakar.
Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan menyemprotkan meriam air untuk membubarkan massa. Petugas juga terlihat menyerang kerumunan dan memukuli sejumlah orang menggunakan tongkat.
Kerusuhan turut terjadi di berbagai kota lainnya. Di Limoges, kebakaran besar melanda gedung balai kota hingga menyebabkan sebagian atapnya runtuh.
Di Lyon, kantor pariwisata kota dibakar. Wali Kota Lyon Gregory Doucet menyebut peristiwa itu sebagai tragedi karena bangunan tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ikonik. Sementara itu, Wali Kota Saint-Etienne Regis Juanico mengatakan seorang pemuda kehilangan tangannya akibat ledakan benda kecil yang diduga merupakan bahan peledak.
Kementerian Dalam Negeri Perancis menyebut sejumlah aksi kekerasan terarah dilakukan oleh orang-orang bertopeng di beberapa lokasi, termasuk Paris, Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers. Kerusakan bangunan juga dilaporkan di Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence.
Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu mengatakan sekitar 150 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut. Pemerintah juga melaporkan sedikitnya 1.200 orang ditangkap.
Demonstrasi di Perancis ini berkembang dari protes para pelajar sekolah menengah atas terhadap kekurangan tenaga pengajar dan buruknya fasilitas sekolah. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan ribu pelajar turun ke jalan memprotes kondisi sekolah yang dinilai tidak memadai. Aksi tersebut kemudian mendapat dukungan dari anggota serikat pekerja dan kelompok demonstran lainnya, termasuk gerakan rompi kuning yang sebelumnya memprotes kenaikan biaya hidup sejak 2018.
“Pemerintah berupaya meredakan kemarahan tersebut. Menteri Pendidikan Edouard Geffray, dalam wawancara televisi pada 8 Oktober, menjanjikan tambahan 3.000 guru pengganti. Namun, demonstrasi terus berlanjut dan semakin intensif,” tulis Kompas.com.
Di Albania, demonstrasi antipemerintah memasuki hari kelima di ibu kota Tirana. Massa menuntut Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri setelah muncul dugaan korupsi pemerintah, pengangguran, dan buruknya kualitas pendidikan.
Dikutip dari News18, demonstran melemparkan batu, bom bensin, bom molotov, suar, dan kembang api ke arah polisi. Petugas membalas dengan gas air mata, meriam air, dan pentungan. Polisi juga menggunakan peluru karet untuk pertama kalinya selama rangkaian demonstrasi tersebut, menurut AFP.
Sejumlah kendaraan, bangunan publik, termasuk gedung Mahkamah Agung, bank, dan kantor pos, dilaporkan terbakar atau mengalami kerusakan parah. Kementerian Kesehatan Albania melaporkan 35 orang terluka pada Sabtu, terdiri dari 18 polisi dan 17 demonstran.
Kepala Kepolisian Albania Skender Hita mengatakan 167 orang telah ditangkap selama rangkaian demonstrasi tersebut. Proses hukum juga dimulai terhadap 388 orang, sedangkan 132 polisi dilaporkan terluka selama lima hari kerusuhan.
Sementara itu, Rama, yang menjabat sejak 2013, menolak mengundurkan diri dan menuduh lawan politik konservatif memicu bentrokan. Ia mengatakan hak masyarakat untuk berdemonstrasi akan dilindungi, tetapi kekerasan tidak akan dibiarkan mengancam masa depan negara.
Aksi juga meluas ke kota pesisir Durres. Media lokal melaporkan demonstran memecahkan jendela kantor pos dan memblokir jalan menggunakan barikade yang dibakar.
Adapun di Italia, demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Milan dan Bologna berujung bentrokan. Menurut Reuters, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa di alun-alun dekat katedral utama Milan.
Sementara itu, petugas mengerahkan meriam air untuk membubarkan demonstran di Bologna. Sebanyak tujuh orang ditangkap dalam aksi di kota tersebut.
Di Portugal, puluhan ribu orang berunjuk rasa di Lisbon untuk menuntut solusi atas mahalnya biaya perumahan dan kebutuhan hidup. Reuters melaporkan harga rumah di Portugal telah meningkat dua kali lipat sejak 2017. Kondisi tersebut memperburuk krisis keterjangkauan hunian dan menjadi salah satu persoalan utama yang mendorong demonstrasi.
Sedangkan ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan di Brussel. Sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi.
Kelompok mahasiswa mengatakan mereka memprotes kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau. “Menurut Reuters, demonstrasi di Belgia sebagian terinspirasi oleh aksi protes di Perancis,” tulis Kompas.com.



