Menjalin hubungan percintaan dan rumah tangga tak selalu mudah untuk dijalani. Tiap pasangan pasti akan menghadapi masalah atau konflik. Terutama, bagi pekerja migran Indonesia (PMI) Hong Kong dan Macau yang menjalani hubungan jarrak jauh dengan pasangan hidup.
Namun, ketika masalah terus terjadi berulang dan saling menyakiti, bisa jadi itu tanda kalau hubungan tidak lagi sehat. Apalagi, jika salah satu pihak tak mau berusaha untuk memperbaiki keadaan.
Sayangnya, banyak PMI ragu untuk menentukan apakah hubungan mereka memang masih layak untuk dipertahankan atau lebih baik dilepaskan. Sebagian, masih tetap mempertahankannya, meskipun terus merasa tersakiti. Padahal, mempertahankan hubungan yang tidak lagi memberikan kebahagiaan dan rasa aman bisa sangat memengaruhi kondisi diri dan kesehatan mental seseorang.
Lantas, bagaimana kamu bisa tahu kalau hubungan sudah berada di ujung tanduk? Dikutip CNN Indonesia dari laman Huffpost, ada 5 hal yang bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut memang sudah tak bisa lagi dipertahankan. Berikut ciri-cirinya.
Pertama, mengalami kekerasan dalam hubungan. Kekerasan, baik fisik maupun emosional, adalah sinyal paling jelas kalau hubungan kalian sudah tidak layak untuk diperjuangkan.
Sebab, tidak ada pembenaran atas sebuah tindak kekerasan. Kekerasan yang dilakukan pasangan tidak harus dalam bentuk fisik, tetapi manipulasi emosi seperti gaslighting dan melontarkan ucapan yang merendahkan termasuk kekerasan emosional.
Kedua, kamu berjuang sendirian. Hubungan yang sehat seharusnya melibatkan usaha kedua belah pihak. Apabila yang satu terus berusaha dan berinisiatif, sedangkan yang lain tidak peduli, maka hubungan tersebut tidak berjalan setara.
“Jika Anda selalu menjadi pihak yang berusaha dan pasangan hanya menunjukkan sedikit usaha, itu adalah tanda bahwa hubungan tersebut tidak layak diperjuangkan. Jika merasa malu menceritakan kepada orang lain tentang seberapa besar usaha yang harus Anda lakukan untuk mempertahankan hubungan tersebut, itu bisa menjadi tanda bahwa Anda telah melampaui batas usaha yang wajar,” ujar psikolog di Washington, D.C, Marie Land.
Ketiga, pasanganmu tidak bisa diandalkan. Pasangan yang dapat diandalkan menjadi fondasi utama dalam sebuah hubungan. Tanpa itu, hubungan akan mudah goyah, terutama saat menghadapi masalah.
Pasangan yang tidak konsisten dalam ucapan dan tindakan dapat menimbulkan rasa tidak aman dan keraguan yang terus-menerus. Misalnya melakukan kebohongan kecil yang berulang, tidak menepati janji, atau menghindari tanggung jawab bisa sangat melelahkan satu pihak.
“Anda berhak memiliki seseorang yang selalu bisa Anda andalkan. Bagi saya, keandalan adalah kualitas paling menarik dan sangat penting dalam hubungan, karena kita hidup di dunia yang tidak stabil dan penuh ketidakpastian,” ujar penulis Surrendering to Marriage and The Secret Lives of Wives, Iris Krasnow.
Keempat, ia mengabaikan perasaanmu. Ketika pasangan tidak mau mendengarkan atau menganggap remeh perasaanmu, hubungan dapat terasa semakin menjauh. Lama-kelamaan, hal ini dapat mengganjal dan menjadi masalah yang tidak terselesaikan.
Mengabaikan perasaan pasangan bisa berupa sikap defensif, tidak mau terbuka, dan menghindari pembicaraan penting. “Ini bukan pertanda baik jika pasangan Anda tidak mau atau tidak mampu mendengarkan perasaan, luka, dan rasa sakit Anda. Hal ini bisa membuat Anda merasa kesepian, marah, atau depresi, bahkan kehilangan harapan dalam hubungan,” kata Amodeo.
Kelima, terjadi perselingkuhan berulang. Yang paling fatal adalah perselingkuhan. Apalagi jika perselingkuhan itu terjadi berulang kali. Maka ini merupakan sebuah pola yang memang sulit diperbaiki oleh pasanganmu. Dalam kondisi ini, mereka yang terus berselingkuh tak akan mudah berubah kecuali ada kesadaran dan komitmen dari dirinya sendiri.
Daripada bertahan dengan hubungan seperti itu, lebih baik pertimbangkan untuk mengakhirinya saja, demi kesehatan mental dan masa depan Anda.





