Sebanyak 29 jamaah haji Indonesia yang berangkat pada hari Rabu (13/5/2026) dinihari diingatkan untuk meluruskan niat berhajinya. Pesan pengingat itu disampaikan oleh pendakwah dari Islamic Union of Hong Kong Ustadz Abdul Muhaemin Karim saat memberikan tausiyah di acara pelepasan jamaah haji yang digelar Hajj Foundation di Ruang Ramayana Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, Ahad (10/5/2026).
“Berhaji ini bukan untuk sekadar mencari titel atau gelar haji atau hajjah. Please, kesampingkan ini. Niat kita berhaji ke baitullah adalah betul-betul 100 persen karena perintah Allah swt. Niat ini perlu diluruskan,” kata Ustadz Muhaemin.
Jika didasarkan pada niat murni tersebut, ungkapnya, insyaallah Allah akan mudahkan seluruh prosesi ibadah haji dan umroh yang dilaksanakan para jamaah di Tanah Suci.
Praktekkan 3S
Ustadz Muhaemin juga berpesan agar para jamaah haji mempraktekkan 3S. S pertama, syukur.
“Bapak dan ibu yang lolos dari verifikasi, perbanyak syukur kepada Allah swt. Haji ini adalah izin dan panggilan dari Allah. Walaupun duitnya banyak, tenaganya kayak smackdowner atau body builder, kesempatannya ada, tapi tidak mendapatkan panggilan dari Allah, dia tidak akan dapat berangkat haji. Tapi ikhtiar harus terus kita lakukan,” ujarnya.
Salah satu yang patut disyukuri, para jamaah haji di Indonesia tidak harus menunggu waktu yang lama dan tidak perlu membayar biaya yang relatif mahal. “Syukurnya, kalau di tanah air, kita harus menunggu berpuluh-puluh tahun dan (mengeluarkan biaya) berratus-ratus juta. Tapi kita yang di Hong Kong ini mendapatkan anuegrah, nikmat yang luar biasa,” ujar Ustadz Muhaemin.
Ia menjelaskan, menurut ahli fiqih, ibadah itu terbagi tiga, yaitu berat, setengah ringan atau ringan, dan sangat ringan. “Dan, yang berat ini, berkat usaha pak Haji Yolvis (Yolvis Sahardi, Chairman Hajj Foundation) dan teman-teman di Hong Kong, sejak tahun 2014 beliau dan timnya bekerja keras membantu bapak dan ibu yang akan menunaikan ibadah haji ke baitullahil haram. Jadi, syukuri nikmat yang ada ini, insyaallah dengan beryukur itu nikmat-nikmat berikutnya akan diberikan bercurah-curah oleh Allah swt,” ujarnya.
S kedua, sabar. Saking pentingnya, Ustadz Muhaemin sampai megulangi kata sabar hingga berkali-kali.
“Ini senjata kita, di manapaun berada, apalagi nanti kita berhaji dan umroh, dalam satu kondisi, satu tempat, satu waktu kita akan berjubel-jubel dengan 2-3 juta manusia di Makkah Al-Mukarromah. Hal ini memerlukan kesabaran. Senjata ini perlu dibawa ke mana-mana. Mulai sekarang berlatihlah sabar,” kata Ustadz Muhaemin.
Banyak momen saat berhaji yang perlu disikapi dengan sabar. Misalnya, didorong orang saat sa’i, dipotong jalan saat thowaf, mengantre di kamar mandi, toilet, dan ketika akan melontar jumroh. “Banyak sekali kesabaran yang harus kita aplikasikan selama kita berada di baitullahil haram, di padang ‘Arofah, Muzdalifah, berjalan kaki dari Mina ke Jumroh, dan mungkin berjalan kaki dari Jumroh ke Makkah Al-Mukarromah utuk menunaikan thowaf ifadhoh. Ini memerlukan tenaga dan kesabaran yang super ekstra. Maka dilatih sabarnya dari sekarang,” ujarnya.
S ketiga, shodar atau selalu berlapang dada. Bagaimana caranya?
“Upayakan dari mulai sekarang belajar membantu saudara-saudara kita yang lain. Ini kunci kesuksesan dalam beribadah haji. Kalau kita pelit memberikan bantuan kepada orang lain, maka Allah juga akan pelit membantu kita. Tapi kalau kita sering membantu, selalu menawarkan jasa kepada orang lain, insyaallah akan dimudahkan prosesi ibadah kita,” kata Ustadz Muhaemin.
Dalam konteks ini, ia juga mengingatkan agar ketika di tenda Mina, jamaah jangan sampai rebutan kasur. Jangan juga serakah mengambil kasur lebih dari satu.
Ia berpesan agar para jamaah haji menjadikan konsep satu per kosong sebagai pedoman. “Satu per kosong artinya tak terhingga. Maksudnya, satu adalah superpower, yaitu Allah swt. Sedangkan kosong adalah hamba-Nya yang lemah, lesu, lelah, miskin, tidak berdaya. Maka aplikasikan konsep satu per kosong ini. Kita datang ke baitullah dengan berpegang pada konsep bahwa Allah Maha Hebat, sementara kita kosong. Dengan begitu, insyaallah kita akan mendapatkan tenaga yang luar biasa dari Allah swt ketika kita membutuhkannya,” ujarnya.





