Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) Malang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) dalam rangka safari dakwah Ramadan. Bentuk kerjasamanya, 9 santri sekolah internasional tersebut akan āmagangā dakwah di Negeri Beton, difasilitasi oleh DDHK.
Hal itu disampaikan oleh General Manager DDHK, Ustadz Fajar Shofari Nugraha pada Ahad, 22 Februari 2026 lalu di hadapan para santri Thursina IIBS Malang, volunteer, serta dua Dai Ambassador, Ustadz Muchammad Fariz Maulana Akbar dan Ustadz Azmi Hafizhuddin, di kantor DDHK, Causeway Bay. āPara santri ini bersama kita untuk bisa belajar berdakwah. Bagaimanapun, mereka masih santri, masih proses belajar. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi mereka, pengalaman mengetahui kehidupanĀ sebenarnya kaum Muslimin yang berada di Hong Kong. Semoga istiqomah, tahun depan lanjut lagi, karena ini membuat warna Islam di Hong KongĀ akan lebih meluas lagi,ā ujarnya, usai kegiatan dikir pagi bareng dan tausiyah agama singkat.

Ustadz Syaiqul Islam, guru pembina ThursinaĀ IIBS Malang yang mendamingi para santri di Hong Kong menerangkan bahwa rombongannya berada di Negeri Beton dalam rangka safari dakwah selama 13 hari, sejak 19 Februari hingga 3 Maret 2026. Ada 3 misi yang diembang rombongannya selama di Hong Kong. Yakni, berkidmad dan mengabdi kepada umat Islam; syiar Islam, khususnya di bulan Ramadan; serta belajar budaya Islam, kehidupan kaum Muslimin sebagai minoritas di Hong Kong.
Beliau juga mengatakan ini adalahĀ program safari dakwah pertama kalinya di Hong Kong bersama 9 siswa. Mereka terdiri dari siswa kelas akhir, 3 SMP (8 orang) dan 3 SMA (1 orang). Ada kualifikasi yang harus terpenuhi untuk bisa ikut, yakni ngajinya bagus dan bahasa Inggrisnya bagus.
āSemoga syiar dakwah ini bisa tersebar luasĀ untuk umat Islam, santri kami bisa belajar dan bisa memberikan kebermanfaatan untuk umat Islam,ā ujar Ustadz Syaiqul.
Program safari dakwah ini diadakan setahun sekali di bulan suci Ramadan. Selain Hong Kong, Thursina IIBS Malang juga memberangkatkan siswanya ke Jepang dan Belanda. [Laporan: Lutfiana Wahid]




