Menjelang pemilihan umum (pemilu) Israel yang harus digelar paling lambat 27 Oktober 2026, perang Iran dinilai memberi peluang bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memulihkan citranya yang merosot setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sejumlah analis menyebut, dinamika politik domestik Israel kini sangat bergantung pada arah dan durasi perang yang tengah berlangsung.
Netanyahu pun diduga sengaja menyerang Iran sebelum tenggat politik 30 Maret, agar dapat menunda pengesahan anggaran yang sulit ia menangi dukungannya di parlemen. Sebab, apabila Netanyahu tak mendapat pengesahan anggaran, pemerintahannya akan jatuh pada 1 April dan pemilihan umum harus digelar. Dalam situasi tersebut, perdana menteri berusia 76 tahun itu dinilai akan memasuki masa kampanye dari posisi lemah.
Popularitas Netanyahu sebelumnya tergerus akibat perang Gaza yang diawali oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Para pengkritiknya menuduh dia berusaha menghindari tanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan tersebut.
Pemimpin partai sayap kanan Likud ini tercatat sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, dengan total lebih dari 18 tahun menjabat dalam beberapa periode. Namun, sejak musim panas lalu, ia kehilangan mayoritas parlemen di tengah krisis dengan sekutu ultra-Ortodoksnya.
Di saat bersamaan, Netanyahu juga sedang menjalani persidangan kasus korupsi yang sudah berlangsung lama. Dia bahkan telah meminta ampunan Presiden Isaac Herzog, sedangkan Presiden AS Donald Trump berulang kali menekan Herzog untuk memberikannya.
Sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan AS-Israel, Netanyahu menegaskan kedekatannya dengan Washington berperan penting dalam operasi tersebut. Ia mengatakan, hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat (AS) memungkinkan Israel melakukan hal yang sejak lama dia inginkan selama 40 tahun, yaitu menyerang Iran secara telak.
Analis politik Universitas Tel Aviv, Emmanuel Navon, menilai Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu. “Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober, mengingat peringatan 7 Oktober,” kata Navon, sebagaimana dikutip Kompas dari kantor berita AFP, Selasa (3/3/2026).
Menurut dia, posisi politik Netanyahu berangsur membaik setelah sempat berada di titik terendah. “Jika Netanyahu berada di titik terendah setelah serangan Hamas, ia secara bertahap telah membalikkan keadaan,” ujarnya.
Navon turut menyebutkan pukulan berat yang dilancarkan militer Israel kepada Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya Perang Gaza. Berdasarkan jajak pendapat, Partai Likud diperkirakan unggul jika pemilu digelar dalam momen-momen sekarang. Kondisi itu berpotensi membuka jalan bagi Netanyahu untuk kembali membentuk pemerintahan, meski masih kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini.
Sejumlah pengamat menilai, kemenangan atas Iran dapat mengubah kalkulasi politik tersebut. Analis geopolitik independen Michael Horowitz mengatakan, “Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya.”
Ia menambahkan, “Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan slogan kampanye, tetapi kenyataan. Ini adalah agenda nasionalnya dan strategi pemilunya.”
Akan tetapi, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran, bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026).”
Di situs berita Walla, jurnalis Ouriel Deskal bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan dengan tenggat politik domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen. Sebaliknya, “Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu,” kata Navon.
Meski demikian, Horowitz mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan. “Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah,” ujarnya.
Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran. Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu.
“Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya,” katanya. “Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu.”




