Dompet Dhuafa hadir memberikan layanan respons bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kampung Adat Tulubadha di Desa Rendhu Tulubadha, Kecamatan Aesesa Selatan. Kampung adat ini berada di pelosok Kabupaten Nagekeo.
Di Kampung Adat Tulubadha, tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa memberikan layanan Psychological First Aid (PFA) berupa permainan lomba, mendongeng, dan edukasi mitigasi bencana. Sedangkan tim Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa juga menghadirkan layanan medis di lokasi tersebut pada Sabtu (29/8/2026).
Suster Burga, salah satu penyintas bencana gempa NTT mengapresiasi layanan respons gempa tim Dompet Dhuafa. “Kurang lebih sudah ada 2 minggu di sini, saya merasa luar biasa, tanggap darurat, karena masyarakat di sini masih dibantu,” ujarnya.
“Kadang warga menerima bantuan dalam bentuk sembako atau apa saja. Tapi hari ini luar biasa, dari bagian medis yang membantu, sehingga mereka-mereka ini kan juga termasuk hidup yang agak jauh dari kota atau kecamatan. Jadi dengan pelayanan-pelayanan seperti ini, (saya) merasa tersentuh. Bisa merasakan layanan gratis. Ini harus bersyukur luar biasa. Ini petugas-petugas dari kota yang besar, provinsi datang. Kalau mereka memeriksanya ke lab-lab itu (rumah sakit), biayanya mahal. Dalam situasi agak trauma, mereka dikunjungi, itu kan memberi mereka kekuatan,” ujar Suster Burga.
Suter Burga sebetulnya tidak tinggal di Kampung Adat Tulubadha. Ia merantau selama 30 tahun, sejak 1993 dan tinggal di Malang, Jawa Timur.
Ia kembali ke kampung halaman untuk memakamkan ayahnya yang telah berpulang. Namun kepulangannya justru disambut gempa bumi. “Setelah masuk tarekat suster ini, saya mulai 1993 sampai saat ini hidupnya di Jawa, tugas pelayanan di Jawa,” kata Suster Burga.
“Ini saya pulang karena orang tua saya meninggal 6 Agustus (lalu),” ujarnya.
Setelah situasi kondusif, Suster Burga baru akan kembali ke Malang untuk melanjutkan tugas kerohanian.
Kampung adat ini dihuni oleh warga yang ramah dan hangat, dengan bangunan rumah tradisional yang terbuat dari kayu dan beratap jerami atau alang-alang. Beberapa ritual adat juga masih dilestarikan di sini sebagai wujud identitas dan warisan leluhur.
Gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 lalu berdampak menyeluruh kepada semua, mulai dari anak-anak, lansia, disabilitas hingga masyarakat adat. Satu dari banyaknya dampak adalah psikis yang terganggu.
Untuk itu, Dompet Dhuafa hadir membersamai masyarakat adat sebagai bentuk komitmen inklusivitas pelayanan kemanusiaan untuk semua. Hal ini juga sejalan dengan pilar program penanganan gempa yang bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER). Pilar ini menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas pelayanan kemanusiaan Dompet Dhuafa.
Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Sumber: Dompet Dhuafa)




