ArtikelHikmah

Iman kepada Rasul

DDHK.ORG — Rasul adalah manusia yang dipilih Allah swt untuk menerima wahyu melalui perantara malaikat untuk disampaikan kepada umatnya. Rasul jumlahnya 25 orang.

Tiap Rasul memiliki tugas masing-masing. Misalnya, Nabi Musa as diutus sebatas untuk umatnya saja. Begitu juga Nabi Isa as dan rasul-rasul lainnya.

Bedanya dengan Nabi Muhammad saw dengan para Rasul terdahulu, Rasulullah saw adalah nabi akhir zaman. Maka Rasulullah diberikan wahyu untuk disampikan kepada umat seluruh dunia, bukan hanya kepada orang Arab saja. Karena, fungsi risalah yang dibawa beliau untuk menyempurnakan risalah yang telah disampaikan oleh Rasul-Rasul sebelumnya.

Ada perbedaan antara Nabi dan Rasul. Kalau Nabi, adalah manusia pilihan Allah yang medapatkan perintah atau wahyu, tapi untuk dirinya sendiri. Tidak perlu disampaikan kepada orang lain.

Menurut riwayat, jumlah Nabi ada 124 ribu orang. Dari jumlah itu, sebanyak 25 orang adalah para Rasul.

Pengertian iman kepada Rasul

Iman kepada rasul bermakna mempercayai bahwa ada seorang utusan yang menerima wahyu dari Allah swt melalui perantara malaikat Jibril. Wahyu tersebut tidak hanya disimpan oleh dirinya tersebut, namun juga harus disampaikan kepada umatnya. Wahyu dan risalah itu tentang pengertian dan pemahaman tauhid, yaitu adanya Tuhan yang Tunggal Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika iman kepada Rasul, maka artinya kita harus memercayai risalah yang diembannya, memercayai kitab yang dibawanya, memercayai pembawanya yaitu malaikat, dan juga memercayai Allah sebagai Dzat yang mengutusnya. Termasuk, memercayai adanya hari kiamat serta memercayai adanya ketetapan qadha dan qadar.

Jadi, iman itu satu paket, satu kesatuan. Meskipun Rukun Iman jumlahnya ada 6, kita tidak bisa hanya memcercayai salah satunya saja, tidak boleh dipisah-pisah.

Seorang rasul wajib memiliki sifat-sifat:

  1. Sidiq (jujur);
  2. Amanah (dapat dipercaya);
  3. Tabligh (menyampaikan wahyu);
  4. Fathonah (cerdas).

Sebaliknya, mustahil bagi Rasul memiliki sifat-sifat:

  1. Kidzib (bohong);
  2. Khianah (khianat);
  3. Kitman (menyimpan);
  4. Baladah (bodoh).

Ada pula sifat jaiz seorang Rasul. Yaitu, “al-a’radhul-basyariyah”, sifat-sifat manusiawi. Yaitu, Rasul itu juga makan, tidur, minum, menikah, berkeluarga, dan kebiasaan manusia lain pada umumnya.

Tapi Rasulullah saw memiliki sifat yang tidak dimiliki orang lain. Yaitu, Rasulullah Muhammad saw tidak pernah “angob” atau menguap. Dan, sepanjang hidup beliau, tidak seekor lalat pun yang hinggap di tubuh Rasulullah saw. Itu berkat betapa sucinya beliau.

Rasulullah saw juga mengakui bahwa ketika tidur, meskipun matanya terpejam namun hatinya tidak pernah tidur. Dalam artian, ketersambungan beliau dengan Allah saw selalu ada seumur hidupnya. Hatinya selalu ingat kepada Allah swt.

Disampaikan oleh Ustadz Ismail Hasan, ME., saat kajian Madrasah Perantau Online (MPO) DDHK pada tanggal 8 Agustus 2021.

>>>Saksikan dan ikuti kajian MPO DDHK tiap hari Rabu, Sabtu, dan Ahad. Kajian ini dilakukan secara online menggunakan aplikasi Zoom dan disiarkan secara LIVE di Facebook page Dompet Dhuafa Hong Kong. [DDHKNews]

Tinggalkan Komentar

Baca juga:

×