Ratusan rumah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan akibat gempa tektonik magnitudo 4,7 yang terjadi pada Rabu (8/4/2026) malam. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur menyebut hingga Kamis (9/4/2026) terdapat 215 rumah warga dan delapan fasilitas umum terdiri dari sekolah dan rumah ibadah mengalami kerusakan akibat gempa. Sedangkan yang mengungsi sebanyak 1.100 jiwa.
“Sementara yang terdata itu sekitar (rumah yang rusak) 215 kepala keluarga kemudian jiwanya 1.100,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Maria Goretty Nebo, seperti diberitakan CNN Indonesia.
Maria menjelaskan ada 5 desa di Pulau Adonara yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa tersebut. Yakni, Desa Terong, Desa Lamahala Jaya, Desa Motonwutun, Desa Dawataah dan Desa Karing Lamalouk. “Ini data sementaranya dari Terong di Adonara Timur dan Lamahala dan beberapa desa yang dekat-dekat situ cuma satu-dua KK saja yang rumahnya mengalami kerusakan tapi yang paling parah itu Desa Terong, datanya masih akan kami rinci lagi,” ujarnya.
Di Desa Terong jumlah rumah warga yang alami kerusakan sebanyak 134 unit dan jumlah jiwa terdampak sebanyak 670 jiwa serta sepuluh mengalami luka ringan. Selain itu ada dua fasilitas umum yang mengalami kerusakan yakni Mushola Al-Hikmah dan SD Negeri Terong.
Untuk Desa Lamahala ada 70 rumah warga yang rusak akibat gempa dengan jumlah jiwa terdampak sebanyak 430 jiwa. Di Desa Lamahala juga ada 4 fasilitas umum yang rusak yakni satu mushola, satu masjid, SMA Muhammdiyah dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wewerang.
Guncangan gempa juga merusak 4 unit rumah warga dan 2 fasilitas umum di Desa Desa Motonwutun. Sedangkan di Desa Dawataah ada enam rumah rusak dan di Desa Karing ada satu rumah.
Saat ini BPBD Flores Timur sedang melakukan penanganan darurat pasca gempa dengan mengirimkan tenda, kasur, selimut, beras dan logistik lainnya. Maria menyebut sebanyak 1.100 jiwa yang terdampak gempa saat ini mengungsi secara mandiri. Ada yang di rumah keluarga dan ada yang rumah warga lainnya yang tidak terdampak kerusakan. Tapi banyak warga yang memilih mengungsi ke lapangan karena trauma akibat gempa susulan yang masih terus terjadi hingga Kamis malam.
“Jadi sementara mereka mengungsi mandiri ada yang di rumah warga yang rumahnya tidak terkena tidak terdampak tapi ada banyak juga yang memang tinggalnya di luar begitu karena guncangan gempanya masih susulan kecil-kecil masih terjadi sampai sekarang,” kata Maria.
“Satu tenda pengungsi dan 12 tenda kecil-kecil atau family tenda karena kondisi tenda kami juga terbatas karena banyak yang rusak patah saat digunakan di huntara,” ujarnya.
Gempa tersebut juga telah mengakibatkan 10 orang warga terluka tapi semua telah tertangani secara baik oleh medis. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Diakui Maria, dalam proses pendataan dan penyediaan logistik terkendala dengan personil dan juga waktu karena harus menyeberang laut.





