Pihak kepolisian Hong Kong menyatakan bahwa teknologi pengenalan wajah akan diterapkan di seluruh jaringan CCTV mereka bulan ini. Tujuannya, untuk membantu pencarian pelaku tindak pidana serta melacak orang hilang yang berisiko tinggi. Sebagian data yang terekam akan disimpan hingga 180 hari.
Petugas kepolisian menyebutkan bahwa sejauh ini mereka telah memasang sekitar 10.000 kamera di bawah inisiatif “SmartView”, ditambah dengan akses ke 10.000 kamera lainnya yang berasal dari departemen pemerintah dan organisasi publik lain. “Lokasi yang tercakup antara lain Kai Tak Sports Park, Bandara Internasional Hong Kong, terowongan lintas pelabuhan, stasiun MTR, dan kawasan perumahan umum,” tulis RTHK.
Superintendent Raymond Cheng mengatakan bahwa fitur pengenalan wajah dapat diaktifkan kapan saja pada semua kamera milik polisi, maupun pada kamera pihak ketiga yang terintegrasi ke dalam sistem SmartView. Namun, ia menjelaskan bahwa fitur tersebut hanya akan diaktifkan saat ada pencarian aktif terhadap pelaku tindak pidana atau untuk melacak orang hilang yang berisiko tinggi, guna menghemat sumber daya.
“Untuk analisis selama 24 jam, tidak semua kamera dapat digunakan secara bersamaan karena keterbatasan sumber daya. Tetapi jika diperlukan, kami dapat mengalokasikan sumber daya tersebut pada kamera CCTV tertentu, dan tentu saja sistem ini dapat digunakan sepanjang waktu,” ujar Cheng.
Dalam uji coba terpisah, pihak kepolisian mengungkapkan bahwa teknologi pengenalan wajah telah membantu mereka menangkap seorang tersangka perampokan dan menemukan seorang pria lanjut usia penderita demensia dalam waktu 1,5 jam setelah dilaporkan hilang.
Petugas menyatakan bahwa rekaman CCTV hanya akan disimpan selama maksimal 31 hari. Akan tetapi, foto individu yang tertangkap oleh teknologi pengenalan wajah—beserta metadata seperti lokasi, tanggal, waktu, dan karakteristik wajah—akan disimpan selama 180 hari.
Sementara itu, pihak kepolisian mengungkapkan bahwa setidaknya empat pusat perbelanjaan telah setuju untuk menghubungkan jaringan CCTV mereka ke jaringan kepolisian. Berdasarkan informasi yang diperoleh RTHK, pusat perbelanjaan tersebut mencakup Tuen Mun Town Plaza, Olympian City, Kwai Chung Shopping Centre, dan Sierra Life di Fanling.
Cheng menambahkan bahwa pusat perbelanjaan yang telah memasang kamera CCTV diwajibkan oleh hukum untuk menampilkan tanda peringatan yang memberi tahu masyarakat bahwa perekaman sedang berlangsung. Namun, pihak kepolisian mencatat bahwa Departemen Kehakiman (DOJ) menyarankan agar pengungkapan mengenai apakah sistem CCTV di pusat perbelanjaan terhubung dengan jaringan kepolisian sebaiknya bersifat sukarela.
“Kami akan mengikuti saran dari DOJ untuk mendorong pusat perbelanjaan atau organisasi terkait agar memasang pemberitahuan dari kami, yang menginformasikan bahwa sistem kami terhubung dengan CCTV mereka,” tambah Cheng.
Sejak tahun 2024, kepolisian telah memasang kamera di berbagai ruang publik yang memiliki tingkat kriminalitas tinggi dan arus pejalan kaki yang padat, dengan target mencapai 60.000 kamera pada tahun 2028 untuk mencakup seluruh wilayah kota. Sebanyak 6.500 kamera tambahan akan dipasang di kawasan Northern Metropolis yang sedang dikembangkan setelah tahun 2028, sehingga total kamera pengawas publik akan berjumlah sekitar 66.500 unit pada tahun 2031.
Sejak proyek ini dimulai, pihak kepolisian menyatakan bahwa jaringan CCTV mereka telah membantu memecahkan hampir 2.200 kasus kriminal—termasuk pembunuhan, perampokan, dan pembakaran—yang berujung pada lebih dari 2.800 penangkapan.



