Di sudut tenda pengungsian yang berdiri di halaman Gereja Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, Kelurahan Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Kakek Abdul duduk perlahan, mencoba menopang tubuhnya dengan alat bantu jalan yang baru saja diterimanya. Di sampingnya, sang istri, Fitria, menatap dengan mata berkaca-kaca, mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.
“Penyakitnya sudah dari 2021. Pertama kesulitan buang air kecil sampai dirujuk ke Maumere, di sana dia dioperasi. Di Maumere dianjurkan ke Makassar untuk tindak lanjut. Ada sumbatan daging di badannya. Di Makassar perawatan sebulan, baru operasi lagi,” ungkap Fitria mengenang awal mula sakit yang diderita suaminya, Sabtu (29/8/2026).
Kakek Abdul dan Fitria adalah sepasang suami istri yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada kekayaan laut, terutama teripang. Sejak 2003, keduanya memutuskan merantau dari Makassar ke Nagekeo. Selama 23 tahun, mereka mengadu nasib dengan menjual hasil laut tersebut ke Maumere dan Makassar.
Namun, roda kehidupan mulai berputar berbeda sejak 2021, ketika Kakek Abdul harus menjalani operasi akibat penyakit yang dideritanya. “Habis itu kami pulang (dari pengobatan di tahun 2021), dia kerja teripang lagi, sudah baikan saat itu, sudah sehat. Lalu, pas perjalanan mengantar teripang, makan dua ekor udang, dari situ tidak bisa jalan lagi. Untungnya ada keponakannya yang jadi sopir oto, baru dibawa ke dokter,” lanjut Fitria.
Berbagai upaya pun ditempuh demi kesembuhan Kakek Abdul, termasuk membeli obat asal Jepang seharga Rp2 juta hingga Rp3 juta. “Kami sempat beli obat dari Jepang seharga Rp2 juta–Rp3 juta. Obat itu diminum dengan cara dihisap di bawah lidah. Setelah itu, dia baru bisa jalan lagi,” ujar Fitria.
“Naik motor bahkan juga bisa,” timpal Kakek Abdul, mengenang masa ketika kondisinya sempat membaik.
Kondisi Kakek Abdul kembali memburuk sekitar dua tahun lalu. Kelumpuhan pada kakinya muncul kembali saat ia hendak menjemput sang istri menggunakan perahu.
“Sekitar dua tahun yang lalu. Sempat saya jatuh di feri. Dia hendak menjemput saya, saya bilang tidak usah karena jalannya berkelok-kelok kalau naik motor. Saat mencoba naik, dia tidak bisa, lalu kami jatuh. Sejak itu dia tidak bisa berjalan lagi,” kenang Fitria.
“Sempat kontrol selama dua bulan. Kami juga capek bolak-balik karena tidak bisa naik motor lagi. Kami coba carter mobil, berangkat pagi pulang sore. Kami sudah lelah. Setelah itu, kondisinya menetap seperti ini,” tambahnya.
Kondisi tersebut memaksa Fitria mengambil alih peran suaminya dalam mencari nafkah. Ia melanjutkan usaha menjual teripang yang sebelumnya dijalankan Kakek Abdul, dengan membeli langsung dari nelayan setempat lalu mengirimkannya ke pembeli di luar daerah.
“Kami penampung teripang. Kami beli dari pemancing, lalu kirim ke Makassar dan Maumere. Namun, sekarang tidak bisa lagi karena kondisi bapak yang sakit. Saat bapak tidak bisa lagi bekerja, saya yang membeli teripang dan mengirimkannya lewat jasa travel,” jelas Fitria.
Perjuangan Fitria pun tak luput dari cobaan. Ia pernah menjadi korban penipuan dari salah satu pembeli teripangnya.
“Sempat kena tipu. Pembeli itu tidak membayar, katanya akan mentransfer, tapi beralasan jaringan jelek, sehingga belum bisa membayar. Padahal tidak ada masalah jaringan. Sampai sekarang belum juga dibayar. Karena itu, saya tidak bisa lagi berjualan teripang, hanya berjualan ikan sedikit-sedikit,” kenangnya.
“Teripang biasanya dimasak untuk coto. Saat bapak masih sakit, kami masih bisa berjualan teripang. Namun sejak kena tipu, kami tidak punya modal lagi, jadi hanya berjualan ikan sedikit-sedikit. Biar penipu itu kami tagih saja nanti di akhirat,” tegasnya.
Sebelumnya, Kakek Abdul dan Fitria telah mendapatkan pelayanan medis dari Dompet Dhuafa bersama dr. Rifki Amarullah, yang lebih dikenal dengan sebutan dr. Iki.
Fitria juga menceritakan pengalamannya saat gempa mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Saat itu, ia harus menyeret tubuh Kakek Abdul menuju bagian depan rumah untuk menyelamatkan diri.
Fitria sempat berteriak meminta pertolongan, namun tidak ada seorang pun di sekitar karena warga telah lebih dulu mengungsi. Air mulai masuk ke rumah mereka yang terletak persis di depan pantai, hingga keduanya sempat terjatuh di halaman rumah.
Tak berselang lama, tiga anak nelayan yang baru pulang melaut melihat kondisi mereka. Kakek Abdul digendong, sementara Fitria dipapah menuju lokasi yang lebih aman.
Setelah mendapatkan penanganan medis, dr. Iki bersama Dompet Dhuafa melalui kampanye Indonesia Siap Siaga turut membantu para penyintas gempa bumi NTT, termasuk Kakek Abdul dan Fitria. Salah satu bantuan yang diberikan berupa alat bantu jalan serta sejumlah paket sembako.
Tim Dompet Dhuafa menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada Kakek Abdul dan Fitria. Abdul pun mencoba menggunakan alat bantu jalan tersebut dengan arahan langsung dari tim Dompet Dhuafa.
“Terima kasih, Dokter Iki, atas bantuannya. Mudah-mudahan sehat selalu dan banyak rezekinya,” ujar Kakek Abdul.
Kini, Kakek Abdul dan Fitria tinggal di tenda pengungsian yang berada di halaman Gereja Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, Kelurahan Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Kehadiran Dompet Dhuafa dalam mendampingi Kakek Abdul dan Fitria menjadi salah satu bentuk komitmen inklusivitas pelayanan kemanusiaan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat adat. Upaya ini sejalan dengan pilar program penanganan gempa bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER), yang menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas utama dalam pelayanan kemanusiaan Dompet Dhuafa.
Hingga kini, Dompet Dhuafa masih terus membersamai percepatan pemulihan para penyintas gempa di NTT. Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. [Sumber: Dompet Dhuafa]




