Di Hong Kong, jumlah kasus penipuan yang dilakukan secara online terus meningkat. Yang terbaru, polisi telah menangkap 71 orang dalam operasi besar-besaran yang mengungkap 69 kasus penipuan dengan 182 korban, yang mengakibatkan kerugian lebih dari HK$214 juta.
The Standard memberitakan, operasi selama 2 minggu, yang dilakukan antara 12 dan 26 Januari 2026, menargetkan kejahatan penipuan dan pencucian uang. Di antara mereka yang ditangkap adalah 46 pria dan 25 wanita berusia antara 14 dan 65 tahun, semuanya diduga bertindak sebagai “pemegang rekening boneka” untuk sindikat kriminal.
“Seiring meningkatnya kasus penipuan, polisi memperingatkan masyarakat tentang taktik yang semakin canggih, termasuk penipu yang menyamar sebagai perwakilan layanan pelanggan dari perusahaan telekomunikasi dan platform media,” tulis The Standard.
Beberapa penipu secara palsu mengklaim korban telah berlangganan paket layanan mahal, kemudian menipu mereka untuk memberikan informasi pribadi dan detail bank dengan dalih membatalkan langganan yang tidak diinginkan. Dalam beberapa variasi, penipu mengarahkan korban ke “platform layanan pelanggan resmi” palsu yang mengklaim verifikasi identitas diperlukan. Ketika korban memasukkan “kode verifikasi” yang diberikan oleh penipu, mereka tanpa sadar mengotorisasi transfer palsu dari rekening mereka sendiri, pihak berwenang memperingatkan.
Polisi juga mengidentifikasi penipuan kode verifikasi serupa yang marak di platform media sosial.
Polisi mengatakan bahwa beberapa penipu menyamar sebagai penjual yang menawarkan barang bekas gratis hanya dengan biaya pengiriman kecil. Setelah korban mengisi formulir pengiriman palsu, para penipu mengklaim akun mereka telah diblokir dan meminta bantuan untuk “verifikasi.”
Korban kemudian dialihkan ke agen layanan pelanggan palsu yang membujuk mereka untuk memasukkan kode verifikasi yang secara diam-diam mengotorisasi transfer dari rekening bank mereka sendiri.
Polisi menjalaskan, penjual di platform perdagangan barang bekas menghadapi risiko serupa, karena penipu yang menyamar sebagai pembeli meminta detail bank untuk pembayaran.
Di antara kasus-kasus penipuan yang terungkap, kerugian terbesar dilaporkan oleh perusahaan perdagangan mobil bekas multinasional. Para penipu diduga menyamar sebagai kepala eksekutif perusahaan (CEO) di Inggris pada Maret lalu dan menginstruksikan seorang direktur pelaksana di cabang Spanyol untuk mentransfer €15 juta (sekitar HK$134 juta) ke rekening bank Hong Kong, untuk apa yang mereka klaim sebagai kesepakatan akuisisi rahasia.
Eksekutif yang tidak curiga tersebut menyelesaikan transfer, dan baru menyadari penipuan tersebut setelah kemudian menghubungi CEO sebenarnya untuk mengkonfirmasi transaksi. Penipuan tersebut menjerat 182 korban berusia antara 18 dan 68 tahun, dengan kerugian individu berkisar dari serendah HK$220 juta hingga mencapai HK$134 juta dalam satu kasus.





